Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
Streaming

Follow Me

Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Tradisi "Sedekahan Rejeb" NGROTO


Tradisi "Sedekahan Rejeb" NGROTO - GUBUG - GROBOGAN .


untuk memperingati peristiwa Isro' Mi'roj, salah satu tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan warga Ngroto adalah dengan berbagi Makanan.
Jenis makanan dibagi menjadi dua.
Pagi hari, warga membawa jenis makanan ringan ( panganan ndeso/makanan tradisional ) Ke Masjid Jami' Sirodjuddin Ngroto.
Sebelum Dzuhur, jenis makanan yang dibawa berupa Nasi lengkap dengan bermacam lauk yang ditaruh di Nampan besar (Trempelang/Tambir/Ambeng).
Selain Sedekah Rejeb, "Sego Ambengan" juga bisa ditemukan pada peringatan "Sedekah Mulud" untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Agenda "Tradisi Sedekahan" Ngroto .
1. Bulan Apit/Selo ( Tradisi Apitan ) Di Rumah Kades atau di Balai Desa (Kondisional)
2. Bulan Mulud Di Masjid Jami' Sirodjuddin (setiap Tgl 12 Mulud Pagi)
3. Bulan Rojab Di Masjid Jami' Sirodjuddin (setiap Tgl 27 Rejeb Pagi)


Kunjungi, https://youtu.be/AX0Goeu62Ug

HAUL 1 SURO / MUHAROM 1435 H



Majlis Dzikir, Maulidurrasul & Haul 1 Suro Ngroto 2013 / 1435 H

Dengan mengharap Ridho dan Maghfiroh dari Allah SWT serta Syafa’at Nabi Muhammad SAW dan Barokah dari para Auliyaillah Wal Ulama’ Billah Wal Masyayikh Fillah Wa Ibadillahissholihin.

Mengharap dengan hormat kehadiran para Habaib/ Masyayikh/ Bapak/ Ibu/ Sdr/i dalam Haflah Dzikir, Maulidurrasul SAW, Haul Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, Syaikh Muhammad Utsman Al Ishaqi, Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi, Syaikh Abdurrahman Ganjur dan Syaikh Sirodjuddin Rodhiyallohu Anhum, Haul 1 Suro Ngroto , mendoakan para Masyayikh, mendoakan kedua orangtua kita, dan mendoakan arwah para muslimin-muslimat, mukminin-mukminat dimanapun mereka berada. yang akan diselenggarakan besok pada :

Hari/ tanggal : Senin - Selasa 4-5 November 2013

Waktu :

- Senin 4 November 2013 pukul 07.00 s/d Selesai ( Khotmil Qur'an Putri )
- Senin 4 November 2013 18.00 s/d Selesai ( Khotmil Qur'an Putra )
- Selasa 5 November 2013, pukul 06.30 s/d Selesai ( Majlis Dzikir, Manaqib, Maulidurrasul )

Tempat :
- Kompleks Makbaroh Syaikh Abdurrahman Ganjur GodhoMustoko / Selatan Musholla PonPes Miftahul Huda (KH. Munir Abdulloh) Ngroto, kec. Gubug, kab. Grobogan, Jawa Tengah.

Diharap kerawuhannya beserta rombongannya, Semoga kita diberi taufiq serta hidayahNya sehingga kita semua bisa menghadiri majlis para SalafunasSholihin...

Atas kerawuhannya kami haturkan Jazakumullohu Ahsanal Jaza’

Semoga senantiasa mendapatkan Ridlo Allah SWT,

Amin Amin Ya Robbal ‘Alamin.
================

===> KLIK DISINI Dokumentasi foto Haul 1 Muharom 1433 H <====

----------------------------------------------
**Live streaming acara Haul 1 Suro InsyaAlloh bisa didengarkan melalui web ini..
http://www.CahNgroto.NET ) atau KLIK DISINI.
*Live tweet via @AlKhidmahNgroto >>> http://www.twitter.com/AlKhidmahNgroto 
*Update photo via Facebook Al Khidmah Ngroto / KLIK DISINI
-----------------------------------------------
Memasuki awal tahun dalam kalender Hijriyah, di Desa Ngroto, Gubug, Grobogan terdapat tradisi turun temurun yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Salah satu tradisi untuk menyambut pergantian tahun Hijriyah, salah satunya dengan adanya rangkaian acara Haul 1 Suro / Muharom.

Selain untuk lebih "menghidupkan" tradisi hari besar Islam, Haul 1 Suro juga menjadi sarana berkirim do'a untuk para tokoh dan leluhur Ngroto.

Diantara tokoh yang menjadi tauladan adalah Syaikh Abdurrahman Ganjur Godho Mustoko dan Syaikh Sirodjuddin.

Berdasarkan cerita tutur masyarakat dan beberapa tulisan yang sempat dihimpun, Syaikh Abdurrahman Ganjur adalah salah satu tokoh yang hidup di zaman Walisongo. Beliau diriwayatkan sebagai salah satu tokoh yang berperan serta dalam pembangunan Masjid Agung Demak, sampai akhirnya menjadi Marbot (takmir?)/magersari/perawat Masjid Agung Demak yang merawat Mas Karebet / Joko Tingkir/ Sultan Hadiwijoyo ketika awal mengabdi di Kesultanan Demak Bintoro.

Sedangkan Syaikh Sirodjuddin diriwayatkan sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan ajaran Islam di Ngroto dan sekitar.

-------

Haul 1 Suro ( Haul Syaikh Abdurrahman Ganjur & Syaikh Sirodjuddin ) pada tahun 2013, insyaAlloh akan diselenggarakan pada hari Senin - Selasa, 4-5 November 2013.

Seperti yang sudah menjadi tradisi di tahun - tahun sebelumnya, rangkaian acara Haul 1 Suro akan dimulai satu hari sebelum acara puncak dan dipusatkan di Kompleks Makam Syaikh Abdurrahman Ganjur Godhomustoko ( Sebelah selatan Ponpes/Musholla Miftahul Huda, K.H Munir Abdullah )

Senin pagi akan diisi dengan Khotmil Qur'an 30 Juz para Khafidzah (Khafidz Putri) dari Ponpes Ngroto & Sekitar.

Senin sore ba'da Ashar, pembacaan do'a akhir tahun.

Senin sore ba'da Maghrib, pembacaan do'a awal tahun.

Senin malam ba'da Isya' s/d Subuh, Khotmil Qur'an 30 Juz para Khafidz Putra.

Sedangkan untuk Selasa pagi acara dimulai pukul 06.30, dengan rangakain Majlis Dzikir, Manaqib, Maulidurrasul dan Mauidhoh hasanah.

------

Dalam pelaksanaannya, acara Haul 1 Suro biasanya akan dipadati oleh ribuan hadirin dari berbagai daerah di Kabupaten Grobogan dan sekitar.

Beberapa tahun terakhir pelaksanaan Haul 1 Suro, acara pada tanggal 1 Suro pagi di isi dengan Majlis Dzikir Jama'ah Al Khidmah.

Dalam Biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A Jatipurwo Surabaya yang disusun oleh H. Abdul Ghofar Umar Gresik, di riwayatkan :

" Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.

Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto".

========

Jalur Lokasi:
Dari arah Semarang :
- Semarang - Mranggen - Karangawen - Tegowanu - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)

Dari arah Purwodadi :
- Purwodadi - Penawangan - Godong - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto (+/- 30 km)
- Purwodadi - Penawangan - Guyangan - Truko - Jeketro - Ngroto (Alternatif) ( +/- 25 km)

Dari arah Demak :
- Demak - Godong - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto (+/- 30 km)
- Demak - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto
( +/- 25 km)

Dari arah Salatiga :
- Salatiga - Pabelan - Beringin - Kedung Jati - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)
- Pertigaan Tuntang ( Timur Jembatan Stasiun Tuntang) - Beringin - Kedung Jati - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)
-------------------------

Alternatif:
- Gubug - Bolampong - Papanrejo - Ngroto (+/- 4 km)
- Gubug - Sili (Gerdu Sili) - Ploso - Kuniran - Ngroto (+/- 5 km)
-------------------------

KLIK DISINI  <-- span=""> PLAY / DOWNLOAD Qoshidah - Hadroh - Nasyid PP Miftahul Huda Ngroto.

APITAN,RATUSAN WARGA GERUDUK RUMAH KEPALA DESA NGROTO






Kontributor: Lutfi Al Hakim

Ahad, 07 Oktober 2012 ada sesuatu yang berbeda di rumah Kepala Desa Ngroto,Gubug,Grobogan.

Kediamanan yang biasanya tampak biasa-biasa saja siang itu penuh sesak dengan ratusan warga yang berkerumun mulai dari anak-anak sampai orang tua tumblek blek membaur disana. 
Waktu pada saat itu mulai menunjukkan pukul 11.00 siang, ubo rampe acara berupa rujak, dawet, sego galeng mulai disusun berderet-deret di dalam dan di luar rumah. 


Ada Apakah gerangan? 
oh.. ternyata saat itu ada tradisi sedekah bumi di Desa Ngroto atau yang sering dikenal dengan Tradisi Apitan. 

Prosesi tradisi apitan dimulai sesaat setelah mbah Modin (Kaur Kesra) membacakan doa keselamatan untuk warga. Kemudian bersamaan dengan itu pak Carik (Sekdes) bersama beberapa perangkat desa lain mengusung kreweng yang telah terisi dengan rujak dan dawet mulai berjalan sedikit cepat memutar mengitari rumah pak kepala desa.


Dibarisan terdepan para perangkat desa ada yang membawa cangkul sambil sesekali di cangkulkan ke tanah, kemudian dibelakangnya ada petugas yang membawa air kendi, di belakangnya lagi ada yang memikul 
kreweng tadi, dan di barisan paling belakang ada pak carik yang memegang cemeti (cambuk) sambil sesekali dipecutkan ke kanan dan ke kiri. 
Satu putaran berlalu kendi dan kreweng tadi kemudian dipecahkan didepan rumah pak kepala desa, puluhan anak-anak pun mulai menyerbu pecahan kreweng yang ternyata di dalamnya terdapat uang2 kecil (receh-red), tanpa ada komando yang pasti kemudian sejumlah perangkat dan unsur organisasi dari desa menyebarkan uang kecil kepada seluruh pengunjung yang hadir, tak dapat dielakkan kemeriahan dan kegembiraanpun bercampur aduk menjadi satu, bukan hanya anak kecil banyak juga orang tua yang ikut 'ngroyok' (berebut). 


Setelah beberapa menit kemeriahan berlalu kemudian Sego Galeng (nasi yang ditaruh diatas lembaran daun pisang membentuk galengan/pematang sawah) yang dari pagi sudah disiapkan kemudian disantap oleh pengunjung yang hadir dan sisanya dibawa pulang oleh ibu-ibu dan warga yang mengikuti ritual Tradisi Apitan.

Tradisi Apitan Ngroto

Senin 03 Oktober 2011, Tradisi Apitan Ngroto - sedekah bumi? - diselenggarakan dengan penuh kesederhanaan di kediaman Kepala Desa Ngroto. Karena satu dan lain hal, pelaksanaan tradisi apitan pada tahun ini tidak diselenggarakan seperti pada tahun terdahulu, dimana biasanya diisi dengan hiburan rakyat seperti wayang kulit, ketoprak atau yang lain.

Dalam pelaksanaan tahun ini, tradisi apitan diisi dengan do'a bersama yang dipimpin oleh K.H Munir Abdulloh bersama tokoh dan sesepuh desa serta diikuti oleh warga Ngroto.

Di Ngroto, Tradisi sedekah bumi tingkat desa biasanya diselenggarakan setiap satu tahun sekali di bulan Dzul Qo'dah (Hijriyah) atau bulan Selo/Apit (Jawa).

Menurut para tokoh dan sesepuh di Ngroto, tradisi ini dinamakan "Apitan", karena diambil dari nama bulan dalam kalender jawa saat diselenggarakannya acara ini. Apit / Selo sendiri adalah penyebutan oleh masyarakat lokal untuk bulan yang berada diantara dua hari raya, Hari Raya I'dul Fitri (Syawal) dan I'dul Adha (Besar).

Beberapa tradisi lokal yang menarik disetiap Apitan diantaranya "Sirat-siratan", yaitu tradisi mengguyur seluruh badan para perangkat desa dengan dawet (cendol). Sebelum diguyur dengan dawet, Kepala Desa dan perangkat desa yang lain, berputar beberapa kali mengelilingi rumah Kepala Desa sambil berlari kecil, seakan menghindar dari lecutan cambuk (pecut) yang dibawa oleh perangkat desa lain yang ikut mengejar dari arah belakang sambil sesekali menyiramkan/memercikkan air dawet yang terkadang dicampur dengan rujak dari bermacam buah kearah Kepala Desa dan dinding rumah. selesai mengitari rumah, kendi yang berisi air dawet dan pecahan uang logam dipecah diatas tebu dan tanaman lain yang sebelumnya ditanam didepan rumah kepala desa.

Selain acara "Sirat-siratan", dalam tradisi Apitan juga diisi dengan do'a bersama yang dipimpin oleh Tokoh agama dan sesepuh setempat yang diikuti oleh warga desa.
Selesai acara do'a, makan bersama menjadi saat kebersamaan bagi seluruh warga dari berbagi lapisan yang mengikuti rangkaian acara. Berbagai makanan (ambengan) yang dibawa oleh perangkat desa dalam wadah "Trempelang" ( baki/nampan extra besar yang terbuat dari kayu berdiameter 1 - 1,5 meter) dan warga yang lain dalam bermacam wadah menjadi menu istimewa dalam tradisi apitan.

Dalam acara makan bersama, ada satu keunikan lain yang biasa dilakukan oleh warga Ngroto.
"Sego Galeng", nasi dan bermacam lauk pauk tradisional ditempatkan diatas daun pisang yang diletakkan memanjang 3-6 meter seperti galengan (pematang sawah?/gundukan2 tanah), kemudian dimakan secara bersama-sama.


Tradisi Saparan Ngroto

Seminggu terakhir di bulan ini, ada yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Ketika kita memasuki rumah warga Ngroto, akan ada sedikit kejutan di meja makan mereka. Piring, mankok, panci serta tempat makan yang lain akan dipenuhi dengan "Jenang Cethil". Makanan tradisional yang bahan dasar pembuatannya terbuat tepung & gula merah ini menjadi salah satu menu wajib tambahan. Selain untuk dimakan sendiri beserta seluruh keluarga, Jenang Cethil yang dibuat juga akan dibagi-bagikan ke sanak saudara & tetangga sekitar. Ada sebagian yang berpendapat, Bulan Sapar terasa kurang bermakna kalau tidak ada "Selametan Jenang Cethil".

Selain membuat & membagikan Jenang Cethil, ada tradisi unik lain yang biasa dilakukan oleh warga Ngroto di bulan Sapar. Pada hari rabu yang jatuh diakhir bulan Sapar, biasanya warga akan melakukan ritual mandi keramas yang didahului dengan niat mandi taubat & mandi tolak balak. Pada jaman dulu, ritual mandi keramas biasanya dilakukan secara bersama-sama di Sendang, Blumbang, Kedung Kali(Tuntang), Sumur, bahkan di Kolah(bak wudhu besar) Masjid Ngroto. Tua, muda, anak-anak berkumpul menjadi satu di tempat yang mereka anggap lebih nyaman & mberkahi. Tentu saja antara laki - laki dan perempuan dibedakan tempat serta waktunya (bergilir).
Setelah mandi keramas selesai, ritual berikutnya adalah memotong kuku & rambut. Dalam memotong kuku ada aturan main tersendiri yaitu dengan cara memotong kuku jempol ketemu jempol yang lain. Sedangkan untuk rambut yang dipotong adalah pucuk dari masing - masing bagian rambut kepala, termasuk bagian "athi - athi" (depan telinga) disebelah kanan & kiri.
Rangkaian ritual diatas yang oleh masyarakat dinamakan ritual "Rebo Wekasan" diakhiri dengan melakukan sholat sunnah 4 rokaat plus amalan lain yang dilakukan secara bersama-sama di "Langgar" terdekat.

Beberapa daerah Indonesia yang lain mungkin mempunyai tradisi yang berbeda - beda dalam menyambut bulan Sapar. Sebagai contoh, misalnya di Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta ada Tradisi Saparan Bekakak, di Kompleks Wisata Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, dan di Kecamatan Jatinom, Klaten Jawa Tengah, ada Upacara Tradisi Saparan Sebar Kue Apem, sedangkan di Cirebon ada Tradisi Saparan: Ngapem, Ngirab & Rebo Wekasan. Masing - masing daerah mempunyai keunikan & kekhasan sendiri.
Yang bisa diambil pelajaran dari tradisi Saparan diberbagai daerah, khusunya Ngroto, adalah bagaimana sikap guyubrukun, kebersamaan yang dilandasi dengan kepekaan sosial, kehati-hatian bertindak, dan ketaatan serta kepasrahan kepada Alloh Yang Maha Kuasa, ternyata masih melekat erat di sebagian masyarakat kita dan sedikit banyak bisa menahan gempuran era modern yang disusupi dengan maraknya pemujaan kepada diri sendiri, mementingkan individu, dan semakin melupakan Tuhan Sang Pencipta.


 
Copyright © 2015 CahNgroto.NET. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger