Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
Streaming

Follow Me

Showing posts with label Simbah Khamidin. Show all posts
Showing posts with label Simbah Khamidin. Show all posts

HAUL 1 SURO/MUHAROM 1434 H




Haflah Dzikir, Maulidurrasul & Haul 1 Suro Ngroto 2012

Dengan mengharap Ridho dan Maghfiroh dari Allah SWT serta Syafa’at Nabi Muhammad SAW dan Barokah dari para Auliyaillah Wal Ulama’ Billah Wal Masyayikh Fillah Wa Ibadillahissholihin.

Mengharap dengan hormat kehadiran para Habaib/ Masyayikh/ Bapak/ Ibu/ Sdr/i dalam Haflah Dzikir, Maulidurrasul SAW, Haul Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, Syaikh Muhammad Utsman Al Ishaqi, Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi, Syaikh Abdurrahman Ganjur dan Syaikh Sirodjuddin Rodhiyallohu Anhum, Haul 1 Suro Ngroto , mendoakan para Masyayikh, mendoakan kedua orangtua kita, dan mendoakan arwah para muslimin-muslimat, mukminin-mukminat dimanapun mereka berada. yang akan diselenggarakan besok pada :

Hari/ tanggal : Rabu-Kamis 14-15 November 2012

Waktu :

- Rabu 14 November pukul 07.00 s/d Selesai ( Khotmil Qur'an Putri )
- Rabu 14 November 2012 18.00 s/d Selesai ( Khotmil Qur'an Putra )
- Kamis 15 November 2012, pukul 06.30 s/d Selesai ( Majlis Dzikir, Manaqib, Maulidurrasul )

Tempat :
-Kamis: Kompleks Makbaroh Syaikh Abdurrahman Ganjur GodhoMustoko / Selatan Musholla PonPes Miftahul Huda (KH. Munir Abdulloh) Ngroto, kec. Gubug, kab. Grobogan, Jawa Tengah.

Diharap kerawuhannya beserta rombongannya, Semoga kita diberi taufiq serta hidayahNya sehingga kita semua bisa menghadiri majlis para SalafunasSholihin...

Atas kerawuhannya kami haturkan Jazakumullohu Ahsanal Jaza’

Semoga senantiasa mendapatkan Ridlo Allah SWT,

Amin Amin Ya Robbal ‘Alamin.
================

===> KLIK DISINI Dokumentasi foto Haul 1 Muharom 1433 H <====

================

Live Streaming via www.CahNgroto.NET
Live Tweet via Twitter @AlKhidmahNgroto / http://www.twitter.com/AlKhidmahNgroto

================
Memasuki awal tahun dalam kalender Hijriyah, di Desa Ngroto, Gubug, Grobogan ada tradisi turun temurun yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Salah satu tradisi untuk menyambut pergantian tahun Hijriyah, salah satunya dengan adanya rangkaian acara Haul 1 Suro / Muharom.

Selain untuk lebih "menghidupkan" tradisi hari besar Islam, Haul 1 Suro juga menjadi sarana berkirim do'a untuk para tokoh dan leluhur Ngroto.

Diantara tokoh yang menjadi tauladan adalah Syaikh Abdurrahman Ganjur Godho Mustoko dan Syaikh Sirodjuddin.

Berdasarkan cerita tutur masyarakat dan beberapa tulisan yang sempat dihimpun, Syaikh Abdurrahman Ganjur adalah salah satu tokoh yang hidup di zaman Walisongo. Beliau diriwayatkan sebagai salah satu tokoh yang berperan serta dalam pembangunan Masjid Agung Demak, sampai akhirnya menjadi Marbot(takmir?)/magersari/perawat Masjid Agung Demak yang merawat Mas Karebet / Joko Tingkir/ Sultan Hadiwijoyo ketika awal mengabdi di Kesultanan Demak Bintoro.

Sedangkan Syaikh Sirodjuddin diriwayatkan sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan Islam di Ngroto dan sekitar.

-------

Haul 1 Suro ( Haul Syaikh Abdurrahman Ganjur & Syaikh Sirodjuddin ) pada tahun 2012, insyaAlloh akan diselenggarakan pada hari Kamis, 15 November 2011.

Seperti yang sudah menjadi tradisi di tahun - tahun sebelumnya, rangkaian acara Haul 1 Suro akan dimulai satu hari sebelum acara puncak dan dipusatkan di Kompleks Makam Syaikh Abdurrahman Ganjur Godhomustoko ( Sebelah selatan Ponpes/Musholla Miftahul Huda, K.H Munir Abdullah )

Rabu pagi akan diisi dengan Khotmil Qur'an 30 Juz para Khafidzah (Khafidz Putri) dari Ponpes Ngroto & Sekitar.

Rabu sore ba'da Ashar, pembacaan do'a akhir tahun.

Rabu sore ba'da Maghrib, pembacaan do'a awal tahun.

Rabu malam ba'da Isya' s/d Subuh, Khotmil Qur'an 30 Juz para Khafidz Putra.

Sedangkan untuk Kamis pagi acara dimulai pukul 06.30, dengan rangakain Majlis Dzikir, Manaqib, Maulidurrasul dan Mauidhoh hasanah.

------

Dalam pelaksanaannya, acara Haul 1 Suro biasanya akan dipadati oleh ribuan hadirin dari berbagai daerah di Kabupaten Grobogan dan sekitar.

Beberapa tahun terakhir pelaksanaan Haul 1 Suro, acara pada tanggal 1 Suro pagi di isi dengan Majlis Dzikir Jama'ah Al Khidmah.

Dalam Biografi Hadrotus-Syaikh Muhammad Utsman Al-Ishaqi R.A Jatipurwo Surabaya yang disusun oleh H. Abdul Ghofar Umar Gresik, di riwayatkan :

" Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.

Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto".

========

Jalur Lokasi:
Dari arah Semarang :
- Semarang - Mranggen - Karangawen - Tegowanu - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)

Dari arah Purwodadi :
- Purwodadi - Penawangan - Godong - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto (+/- 30 km)
- Purwodadi - Penawangan - Guyangan - Truko - Jeketro - Ngroto (Alternatif) ( +/- 25 km)

Dari arah Demak :
- Demak - Godong - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto (+/- 30 km)
- Demak - Dempet/Kebun Agung/Mrapen- Pertigaan Pilang Wetan ke kiri - Jeketro - Ngroto
( +/- 25 km)

Dari arah Salatiga :
- Salatiga - Pabelan - Beringin - Kedung Jati - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)
- Pertigaan Tuntang ( Timur Jembatan Stasiun Tuntang) - Beringin - Kedung Jati - Gubug - Pertigaan Pilang wetan ke kanan - Jeketro - Ngroto ( +/- 30 km)
-------------------------

Alternatif:
- Gubug - Bolampong - Papanrejo - Ngroto (+/- 4 km)
- Gubug - Sili (Gerdu Sili) - Ploso - Kuniran - Ngroto (+/- 5 km)
-------------------------

Siar Simbah Ganjur dan Kiai Sirodjudin


HARIAN SUARA MERDEKA

SEMARANG METRO


TERDAPATNYA bangunan masjid kuno dan makam Abdurrahman Ganjur Godho Mustoko atau lebih dikenal dengan nama Simbah Ganjur di Desa Ngroto, Gubug, Grobogan menjadi salah satu bukti nilai sejarah siar agama Islam di kabupaten terluas kedua se-Jateng itu.

Selain sebagai tempat dimakamkannya salah satu tokoh agama Islam di masa Walisongo tersebut, Desa Ngroto juga merupakan tempat dimakamkannya Simbah Gareng yang menurut tokoh masyarakat setempat merupakan kakek dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari.

Selain nama besar tokoh Islam di Jawa tersebut, wilayah Desa Ngroto juga menjadi tempat dimakamkannya beberapa tokoh yang ikut menyebarkan Islam di wilayah sekitar. Sebut saja Simbah Khamidin, Simbah Sirodjudin, Simbah Nur Khatam, Simbah Abdul Ghofar Abdul Ghofur yang lebih dikenal sebagai Simbah Mabur Mawur, Kiai Damanhuri, Simbah Abdullah, Simbah KH Masduri Damanhuri, dan Habib Husain Al-Hindwan.

”Desa Ngroto juga merupakan tempat awal Majelis Al Khidmah oleh KH Oetsman dan KH Asrori Al Ishaqi yang berkembang di Jateng dan DIY. Di sini terkenal pula sebagai tempat pengobatan alternatif seperti sangkal putung, patah tulang, pijat bayi dan lain lain,” kata Ketua Ponpes Miftahul Huda Desa Ngroto, ustad Muttaqien, Selasa (2/8).

Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, Ponpes Miftahul Huda yang diasuh KH Munir Abdullah pada setiap kegiatan haul akbar dan Haflah Dzikir Maulidurrasul selalu dibanjiri jamaah. Bahkan setiap selapan (40 hari) sekali pada malam 17-an dalam penanggalan Jawa rutin digelar acara istighotsah dan manaqiban yang diikuti tokoh agama, kiai dari berbagai wilayah serta para habib.

Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah pula singgah di desa yang sebagian wilayahnya merupakan kawasan genangan dari Sungai Tuntang ini. Sebagaimana penuturan salah satu tokoh masyarakat, Kiai Chumaidi, Desa Ngroto dikenal karena memiliki kontribusi sejarah penyerbuan para Wali Sembilan (Walisongo) atas ibukota Majapahit.

Para Wali Sembilan yang berhasil mendirikan Kesultanan Demak akhirnya membentuk pasukan yang dipimpin Sayyid Abdurrahman dari Desa Ngroto. Sayyid Abdurrahman dipilih oleh Wali Sembilan karena memiliki keterampilan membuat alat musik pukul, sehingga dia diberi delar Ki Ageng Ganjur (alat musik pukulan di bawah gong dalam perangkat gamelan wayang). Alat musik Ganjur tersebut dipakai sebagai alat komunikasi dengan pasukan-pasukannya.

Sekitar satu abad setelah Kiai Sayyid Abdurrahman Ganjur wafat, datang seseorang bernama Khamidin ke Pedukuhan Ngroto untuk memperdalam ajaran agama Islam. Khamidin kemudian menikah dengan wanita setempat dan diangkat menjadi demang (kepala dukuh). Ki Demang Khamidin meminta kepada Kiai Soleh dari Jatisari, Salatiga untuk mendirikan masjid pada sebidang tanah miliknya. Ini untuk lebih mensiarkan agama Islam.

”Pada suatu ketika Kiai Siradjudin berjalan-jalan di pinggir Sungai Tuntang. Karena kepandaian yang dimiliki, dia mampu melihat dua makam lama, yaitu makam Kiai Abdurrahman Ganjur berdampingan dengan ibunya Nyai Syamsiyah yang tertimbun lumpur sungai,” kata Chumaidi.

Oleh Kiai Siradjudin makam tersebut kemudian dibersihkan, dan diberi nisan. Semua penduduk diajak merawat makam itu, karena almarhum Kiai Abdurrahman Ganjur adalah orang yang berjasa mengislamkan penduduk Ngroto.

Jati Glondongan

Bangunan Masjid Jamik Sirodjuddin Ngroto yang terbuat dari kayu Jati glondongan (utuh-red), sampai sekarang ini masih berdiri kokoh.

Bangunan masjid ini memiliki keunikan, yaitu tidak pernah terdapat rumah serangga yang menempel, meskipun sejak pertama berdiri belum pernah dibersihkan. Kentongan yang dibuat bersamaan waktu masjid dibangun hingga sekarang disimpan dekat mimbar.

Berkat jasa-jasanya ketika wafat jenazah Kiai Siradjudin dimakamkan di sebelah timur makam Kiai Abdurrahman Ganjur.

Di atas makam tersebut dibuatkan cungkup dengan bentuk yang sangat cantik. Untuk menghormati jasanya, setiap tanggal satu syura digelar haul bersamaan dengan haul Kiai Abdurrahman Ganjur.

Saat ini di Desa Ngroto terdapat Ponpes Miftahul Huda dan lembaga pendidikan Yaspia (Yayasan Pejuang Islam Abdurrahman Ganjur), sebagai salah satu bukti bahwa desa tersebut memiliki sejarah perkembangan Islam yang cukup besar. Bangunan Masjid Jamik Sirodjuddin Ngroto di lokasi Ponpes Miftahul Huda juga mampu menampung jamaah Al Khidmah yang melakukan kegiatan ritual keislaman..*

Memasuki bulan Ramadan ini, para santri Ponpes Miftahul Huda disibukkan dengan kegiatan keagamaaan yang padat sejak menjelang sahur sampai malam, hari berupa tadarus Alquran, pengajian kitab, dan shalat sunah. (Dheky Kenedi-16)

------------------

Note:
Di dua alenia terakhir tertulis:
Bangunan Masjid Jamik Sirodjuddin Ngroto di lokasi "Ponpes Miftahul Huda" juga mampu menampung jamaah Al Khidmah yang melakukan kegiatan ritual keislaman..*


Kalimat yang tepat adalah:

Bangunan Masjid Jamik Sirodjuddin Ngroto di lokasi "Ponpes Utsmaniyyah" juga mampu menampung jamaah Al Khidmah yang melakukan kegiatan ritual keislaman..
Yanga da di Lokasi Ponpes Miftahul Huda adalah bangunan Musholla Miftahul Huda.

*Nuwun sanged to mas Afrosin Arif yang telah ikut membantu melengkapi tulisan diatas.

Kisah Simbah Khamidin ( Ki Demang Khamidin Ngroto )

Ki Demang Khamidin
Kira-kira satu abad setelah Kyai Abdurrahman Ganjur wafat, datang seseorang bernama Khamidin ke pedukuhan Ngroto. Konon Khamidin adalah putra Mbah Samsudin, seorang petani dari dukuh Jatipecaron. Maksud kedatangannya di pedukuhan Ngroto, adalah untuk belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama Islam. Setelah tamat mengaji dia tidak kembali ke desanya, dan menikah dengan perawan dukuh setempat. Karena dianggap dapat memimpin warga, maka beberapa tokoh pedukuhan mengangkat dia menjadi Demang (kepala dukuh). Ternyata Ki Demang Khamidin benar-benar cakap memimpin warga, serta memperhatikan kemajuan pedukuhan dalam bidang agama dan pembangunan. Hal ini terbukti dengan didirikan sebuah masjid, yang terletak pada sebidang tanah miliknya. Untuk mengerjakan bangunan masjid dipercayakan kepada Kyai Soleh, dari desa Jatisari Salatiga (desa sebelah utara Bringin-Salatiga), dan dibantu penduduk setempat secara gotong royong. Setelah masjid selesai didirikan, banyak warga pedukuhan datang bersembahyang atau mengaji.
Pada suatu ketika warga yang datang mengaji di masjid berkurang, dan mereka hanya bergerombol di persimpangan jalan saja. Sangatlah sedih hati Ki Demang Khamidin, melihat warganya mulai enggan mengaji di masjid. Dari hasil laporan beberapa orang kepercayaannya diketahui, bahwa sebagai penyebab karena yang mengajar mengaji bukan kyai. Mendengar laporan itu, pergilah beliau mencari kyai yang mau mengajar mengaji kepada warganya. Dalam hati beliau bersumpah, tidak akan kembali ke pedukuhan kalau tidak membawa seorang kyai.
Pergilah Ki Demang Khamidin ke pondok pesantren pedukuhan Kuwaron, yang pada waktu itu memang sudah maju dan banyak santrinya. Beliau berfikir bahwa di pondok pesantren itu pasti memiliki kyai, yang mau diajak ke pedukuhan Ngroto. Ketika sampai di pondok pesantren Kuwaron, Ki Demang Khamidin bertemu Kyai Siradjudin sebagai pemimpin pondok. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Ki Demang Khamidin lalu meminta Kyai Siradjudin untuk bersedia diajak ke pedukuhan Ngroto. Tergeraklah hati Kyai Siradjudin mendengar cerita Ki Demang Khamidin, dan beliau ingin menyelesaikan masalah yang ada di pedukuhan Ngroto. Karena pondok pesantren Kuwaron waktu itu memiliki beberapa kyai, maka Kyai Siradjudinpun bersedia diajak ke dukuh Ngroto. Setelah memberi tugas kepada para kyai di pondok Kuwaron, maka Kyai Siradjudin berangkat mengikuti Ki Demang Khamidin.
Singkat cerita Ki Demang Khamidin kembali ke pedukuhan Ngroto, dengan mengajak serta Kyai Siradjudin. Melihat kedatangan Ki Demang Khamidin bersama seorang kyai, sangatlah senang hati warga pedukuhan Ngroto. Konon setelah itu, pada malam hari di serambi masjid penuh warga masyarakat pedukuhan yang datang. Setelah mendengar isi dakwah Kyai Siradjudin, semua merasa cocok dan bersedia diajar mengaji beliau. Ki Demang Khamidin merasa puas, karena warganya mau datang lagi ke masjid untuk belajar mengaji. Sebagai ungkapan rasa gembira, Kyai Siradjudin dinikahkan dengan adik perempuannya (nama kurang jelas). Hal itu mempunyai tujuan, agar Kyai Siradjudin betah tinggal di dukuh Ngroto.
Konon cerita, pada suatu ketika Kyai Siradjudin berjalan-jalan sendirian di pinggir sungai Tuntang. Karena kepandaian yang dimiliki, beliau dapat melihat ada dua makam lama yang tertimbun lumpur sungai. Melihat hal itu beliau menanyakan pada penduduk setempat, tentang siapa yang dimakamkan di pinggir sungai Tuntang itu. Dari keterangan warga akhirnya beliau tahu, bahwa yang dimakamkan disitu adalah Kyai Abdurrahman Ganjur berdampingan dengan ibunya Nyi Syamsiyah. Kyai Siradjudin terkejut mendengar penjelasan itu, dan beliaupun ingat cerita gurunya dulu tentang Kyai Abdurrahman Ganjur. Maka makam tersebut kemudian dibersihkan, dan diberinya nisan diatas kedua makam. Diajaknya semua penduduk dukuh Ngroto menghormati serta merawat makam itu, karena almarhum Kyai Abdurrahman Ganjur adalah orang yang berjasa mengislamkan penduduk dukuh Ngroto.
Kembali pada Ki Demang Khamidin, sebagai kepala dukuh Ngroto. Beliau wafat dalam usia sangat tua, dan oleh warga untuk jenazahnya dimakamkan di sebelah utara makam Kyai Abdurrahman Ganjur. Konon menurut cerita penduduk desa Ngroto, bahwa dulu nisan yang dipasang di makamnya berupa lesung yang diletakkan terbalik.
Masih menurut cerita penduduk, bahwa dulu makam Ki Demang Khamidin terkenal sangat wingit. Bila ada orang berjalan di dekat makam beliau tanpa mengucapkan salam, akan dibuat bingung. Tetapi pada sekitar tahun 1980 ketika sungai Tuntang banjir, air sungai menggenangi kompleks makam beliau. Lesung yang digunakan sebagai nisan hanyut terbawa banjir, tanpa seorangpun warga yang mengetahui. Melihat makam beliau tidak bernisan, digantinya dengan nisan batu. Anehnya setelah nisan beliau diganti nisan batu, makam Ki Demang Khamidin tidak wingit lagi seperti dulu.
Bangunan masjid desa Ngroto peninggalan dari Ki Demang Khamidin dulu, sampai sekarang ini masih berdiri kokoh. Bangunan tersebut terbuat dari kayu jati, dengan tiaqng-tiang utama yang terbuat dari kayu jati glondongan. Walaupun bangunan masjid itu sudah berpuluh-puluh tahun didirikan, tetapi anehnya di sudut-sudut bangunan tidak kelihatan ada rumah serangga yang menempel. Menurut keterangan warga setempat, bahwa dalam bangunan masjid itu selamanya belum pernah dibersihkan. Kentongan yang dibuat bersamaan waktu masjid tersebut dibangun, sekarang disimpan dekat tempat pengimaman. Hal itu perlu juga dilakukan, karena kentongan tersebut sudah lapuk dimakan usia. Adapun kentongan yang dipakai sekarang, adalah kentongan duplikat yang dibuat dari kayu nangka. Menurut cerita masyarakat desa Ngroto, bahwa ketika mencari kayu untuk masjid semuanya lupa mencari kayu yang akan dibuat menjadi kentongan. Karena tinggal beberapa hari masjid tersebut digunakan, maka Kyai Kholil memerintahkan pada beberapa orang santri untuk mencarinya. Konon dalam perintahnya, Kyai Kholil menyuruh para santri untuk mencari kayu ”opo-opo”.
Benarkah kentongan yang berdiameter 30 cm itu, dulunya dibuat dari jenis kayu opo-opo ?
Bila kita bahas perintah dari Kyai Kholil kepada para santri untuk mencari kayu opo-opo, mestinya yang diambil bukan kayu dari jenis tanaman perdu. Untuk kayu opo-opo yang merupakan bahasa jawa, bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya jenis kayu apa saja yang dapat dibuat kentongan. Dengan demikian, bukan kayu opo-opo seperti yang banyak tumbuh di pinggir jalan ataupun di pinggir ladang. Tetapi anehnya, untuk menentukan jenis kayu kentongan asli yang tersimpan di atas pengimaman tersebut memang sangat sulit. Serat kayu kentongan itu berbeda dengan serat kayu tumbuhan lain, yang banyak tumbuh di hutan dekat desa Ngroto sekarang. Hal ini yang masih menjadi misteri bagi masyarakat desa Ngroto, guna menentukan jenis kayu apakah yang dibuat menjadi kentongan oleh Kyai Kholil pada waktu dulu.

Repost:
http://heruhardono.blogspot.com/2009/12/ki-demang-khamidin.html

 
Copyright © 2015 CahNgroto.NET. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger