Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
Streaming

Follow Me

Kenangan Gus Dur Untuk Syaikh Abdurrahman Ganjur Ngroto





Abdurrahman Wahid selama era lengser: kumpulan kolom dan artikel By Abdurrahman Wahid, Indonesia. President (1999-2001 : Wahid), LKiS
http://bit.ly/fMAw0P
----------
Artikel dalam editing
----------

Membaca Sejarah Lama (14)


Tanah pekuburan Troloyo berada tak jauh dari tanah pekuburan Trowulan, dekat Brangkal (Mojokerto). Pekuburan tanah Trowulan menyimpan kuburan Brawijaya V,permaisurinya, Kencana Wungu, dan istri selirnya, putri Cempa. Ternyata, menurut cerita tutur, Prabu Brawijaya V itu adalah seorang muslim karen istri selirnya yang berkebangsaan China dan berasal dari Combodia itu adalah seorang muslim pula. Dia adalah ibu dari Raden Fattah (Tan Eng Hoat), yang belakangan mendirikan kesultanan Demak bersama dengan Maulana Ishak at-Tabarqi.
Sebaliknya, tanah pekuburan Troloyo, yang hanya satu kilometer jauhnya,juga menyimpan kuburan Syaikh Abdul Qohar (Maling Cluring), Kiai Usman Ngudung, Tan Kim Han (menantu puteri Cempa) yang juga beragama Islam dan memiliki nama Arab Abdul Qodir Jaelani, dan masih banyak lagi pejuang-pejuang muslim lainnya. Mereka gugur di tempat itu ketika menahan serbuan orang Adipati Majapahit di Kediri, Kusuma Wardani, yang juga anak Brawijaya V.Adipati yang beragama Hindu-Budha ini, adalah orang yang tidak rela jika istana Majapahit dikuasai orang Islam, karenanya ia berusaha merebut tahta dari tangan Brawijaya V dengan kekerasan. Adipati inilah yag kemudian dikenal dengan nama Prabu Brawijaya VI, raja terakhir Majapahit. Sedangkan Brawijaya V meninggalkan istana dengan bertapa di Gunung Lawu, sekarang terkenal dengan nama Sunan Lawu.Data sejarah yang dikemukakan cerita tutur ini, kemudian diperkuat dengan data sejarah lain, yaitu prasasti yang ditemukan Dr Habib dari IKIP Malang. Menurut prasasti ini, pada tahun sangkala sirna ilang kertaningbumi (tahun 1400 Saka, menurut Empu Prapanca), telah diberikan gelar Romo Bayan AMpel oleh Brawijaya V atas meninggalnya seseorang dari desa Ampel di Surabaya. INi berarti gelar yang diberikan pada SUnan AMpel (salah seornag Wali Sembilan) oleh seorang muslim pula. Inilah yang mendukung spekulasi penulis, bahwa beliau masuk agama Islam. minimal pada akhir hayatnya.
Cerita tutur di atas, dengan dilengkapi dengan data prasasti tentang Romo Bayan AMpel itu, menunjuk dengan jelas pergulatan orang-orang beragama dalam istana Majapahit pada masa akhir kerajaan tersebut. Yang belum jelas bagi penulis, siapakah adik SUnan Ampel, yang dikatakan mejadi besan Brawijaya V. Pergulatan ini berlangsung sengit, diakhiri dengan peristiwa Troloyo dan disusul dengan penyerbuan Majapahit oleh pasukan rakyat para wali sembilan (wali songo) yang dipimpin oleh Sayyind Abdurrahman dari NGroto (dulu Demak dan sekarang Grobogan/Purwodadi), terkenal dengan sebutan Ki Ageng Ganjur (sejenis alat pemukul; di bawah gong dalam urutan perangkat gamelan wayang). Rupanya ganjur (genjur) ini digunakan panglima tersebut sebagai alat komunikasi dengan 350 ribu pasukan rakyatnya, karena waktu itu belum ada HT. Karena Ki Ageng Ganjur adalah pembangun jembatan bambu di daerahnya, dapatlah diduga ia diangkat menjadi panglima karena penguasaan tekniknya. Penyerbuan Kusuma Wardani atas Majapahit di Troloyo itu telah mengakibatkan hancurnya - untuk sementara waktu, kekuatan militer kaum muslimin. Tetapi, itu harus dibangung mahal oleh sejarah bangsa kita, karena pasukan para wali sembilan yang dipimpin Kia Ageng Ganjur itu lalu menghancurkan secara total keraton Majapahit, sebagai gantinya didirikanlah kesultanan Demak, dengan keturunan Majapahit, yaitu Raden Fattah yang menjadi Sultan pertamanya. Inilah hasil pergulatan militer yang penuh dengan kekerasan, seperti halnya yang pernah dilancarkan Kusuma Wardani.Perbedaan strategi dari masa Sunan Ampel yang dijalankan melalui jaland amai itu, akhirnya diteruskan dengan pergulatan menggunakan kkerasan di zaman Sunan Kalijaga. Bahwa Sunan Kalijaga- kalau perlu, bersedia menggunakan kekerasan, dan dapat dilihat dalam kasus Syaikh Siti Jenar. Syaikh kita ini telah mengajarkan wihdat al-wujud/wihdat asy-syuhud (manunggaling kawulo lan gusti) kepada orang awam, yang belum melaksanakan hukum-hukum syari'at, seperti shalat. Jadi, bkan berarti didasarkan atas penolakan Sunan Kalijaga terhadap aliran tasawuf tersebut, sebagai diduga Dr Alwi Shihab dalam disertasi doktornya di muka Universitas 'Ain Syam di Kairo.
Dari penuturan di atas, jelaslah membaca sejarah masa lamapu kita tidaklah mudah. Disamping data-data sejarah tertulis harus juga digunakan data-data yang diambilkan dari cerita-cerita tutur. INi berarti kemampuan menggunakan bahasa lokal, disamping kemampuan menggali cerita-cerita tutur yang ada. Itu pun belum menjamin autentisitas data-data tersebut, hingga spekulasi kesejarahan harus dilakukan.
Dengan demikian, faktor kredibiltas dan kejujuran sehari-hari sejarawan yang bersangkutan sangatlah menentukan. Sejarawan yang jujur dalam memberikan presentasi tertulis tentulah memiliki kredibilitas yang tinggi. Sedangkan sejarawan yang tidak demikian, sebaliknya, tidak melakukan spekulasi apa pun. Dalam hal ini, sejarawan yang secara resmi menjadi anggota partai politik, apalagi pengurusnya sebaiknya tidak melakukan spekulasi apapun, karena bagaimanapun juga, kredibilitas semua partai politik di negeri ini belumlah tinggi, dan bahkan sering tidak dipercaya orang.
Jelaslah, dari kasus Majapahit di atas, kerja membuat rekonstruksi sejarah memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan,. ini terkait dengan kecakapan dalam menggunakan data-data secara tertulis maupun kemapuan menimbang cerita-cerita tutur. Di samping itu, ia memerlukan kesadaran etis yang tinggi dan kejujuran mutlak dari sang sejarawan. Sejarah jualah yang akan menentukan apakah kerja yang dilakukan mempunyai nilai atau tidak, dan bukannya kekuasaan.
Surabaya, 5 Februari 2002.

Membaca Sejarah Lama (15)

Penyerbuan para wali sembilan (wali songo) atas ibukota Majapahit, adalah kejadian yang sangat menarik untuk diketahui. Karena banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut. Ia bermula dari serbuan Kusuma Wardani yang dipimpin Kadipaten Kediri, salah seorang putra Prabu Brawijaya V, atas prajurut muslim di Troloyo - sekitar satu kilometer dari Trowulan. Kusuma Wardani, menurut spekulasi penulis, marah atas proses Islamisasi keraton Majapahit. Karena kemarahan tersebut, ia memutuskan untuk menyerbu keraton itu dan berhasil mengusur Prabu Brawijaya V yang selanjutnya, melarikan diri ke Gunung Lawu - sebelah barat Magetan sekarang, dan di sana dikenal dengan sebutan Sunan Lawu.
Sehabis menyerbu keraton Majapahit, pasukan-pasukan Kusuma Wardani menyerbu pertahanan kaum muslimin di Troloyo, berguguranlah Syaikh Abdul Qohar (Maling Cluring), Syaikh Usman Ngudung, dan Tan Kim Han, salah seorang duta besar China yang beragama Islam dan menggunakan Arab Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Di tempat itulah dikuburkan orang-orang Hindu-Budha, setelah kerajaan Majapahit hancur total.
Pelajaran berharga dari seragan Kusuma Wardani itu adalah pentingnya arti kerukunan umat beragama antara Islam dan HIndu-Budha yang terganggu semenjak Syaikh Jamaludin Husein berpindah dari Bojonegoro ke Majapahit. Di tempat baru itu, ia membeli tanah-tanah yang dirampas dari tangan para penunggak hutang, seperti yang dilakukan BPPN kita sekarang, yang merampas perusahaan-perusahaan milik para konglomerat yang tidak mau mengembalikan kredit mereka ke berbagai Bank. Dan, Sayyid Jamaludin Husein mengembalikan tanah-tanah itu kepada para pemilik jika mereka memeluk agama Islam.
Gugurnya para pemimpin tentara Islam di Troloyo itu, diikuti oleh penguasaan Kusuma Wardani atas keraton Majapahit yang lebih mempertahankan agama Hindu-Budha, hingga mengakibatkan reaksi tajam. Para wali sembilan, yang sementara itu telah berhasil mendirikan kesultanan Demak, memutuskan untuk menggunakan kekerasan dan membentuk pasukan rakyat, yang berjumlah sekitar 35- ribu jiwa. Untuk memimpin pasukan itu, mereka menunjuk Sayyid ABdurrahman dari Ngroto, di sebelah timur Semarang (dahulu termasuk Kabupaten Demak, sekarang wilayah Grobogan-Purwodadi). Panglima ini, bergelar Ki Ageng Ganjur, alat musik pukulan di bawah gong daalm perangkat gamelan wayang, sebagai alat komunikasi komunikasi dengan pasukan-pasukannya.
Sayyid Abdurrahman Ngroto dipilih sebagai panglima karena ketrampilan teknologisnya, tepat seperti lulusan ATKAD, semisal Try Sutrisno. Dilakukan penggunaan alat musik pukul itu sebagai alat komunikasi dengan pasukannya, sebab saat itu belum ada HT dan sejenisnya. Juga, ia dipilih karena harus menyeberangkan kesemua prajurit rakyat sebesar itu dengan melintasi dua buah sungai, Bengawan Solo dan Brantas. Kisah penyeberangan itu sendiri, menurut cerita tutur, sangat menarik untuk didengar karena di dalamnya tersebur kegigihan anak manusia melawan rintangan alam yang dihadapi mereka.
Kisah penyeberangan menurut cerita tutur itu, membawakan pelajaran kedua bagi kejadian sejarah, yaitu bagaimana manusia harus mengatasi rintangan alam yang sangat berat melalui penerapan teknologi tepat guna dan pengorganisasian diri yang sepadan dengan kebutuhan. Alam harus ditundukkan dengan teknologi dan pengorganisasian, dan prisnip ini harus dipegang teguh oleh anak manusia di segalam zaman. Keberhasilan para wali sembilan dan panglima mereka itu - dalam menempuh cara tersebut untuk mewujudkan keinginan politik mereka, menunjukkan derajat kemasyarakatan yang ditinggi yang ada waktu itu.
Keputusan untuk membumihanguskan keraton Majapahit, setelah pasukan-pasukan Islam mengalahkan Prabu Brawijaya VI (posisi dan gelar yang digunakan Adipati Kediri setelah mengalahkan tentara Islam di Troloyo), merupakan pelajaran penting ketiga yang diambil dari rangkaian peristiwa di atas. Pelajaran itu adalah, jika kau kalahkan dan kuasai lawan, hancurkan keraton mereka. Ini adalah kerugian sangat besar bagi sejarah, sebab catatan-catatan sejarah menjadi musnah dan kita kehilangan data-data tertulis darinya.
Kesultanan Demak dengan melakukan hal itu, dan kita banyak kehilangan data-data sejarah yang tertulis, kehilangan yang harus dikompensasikan oleh cerita-cerita tutur yang terkadang sangat meragukan ke0autentikannya. Di samping itu, menurut Dr Sudjatmoko, letak geografis kerajaan-kerajaan Indonesia terdapat di daerah katulistiwa/tropis - juga ikut membyat kerusakan-kerusakan besar bagi begitu banyak peninggalan sejarah kita. Menurutnya, letak geografis kita, seperti juga halnya letak geografis budaya Afrika maupun budaya Inka dan Maya di Amerika Tengah, bersifat a-historis.Pelajaran penting lain yang dapat ditarik dari peristiwa itu adalah pentingnya arti toleransi antar-agama, bagi bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa yang ada di kawasan ini. Pelajaran ini dapat dimengerti dengant epat oleh para pendiri Republik kita, dengan kearifan untuk menghapuskan Piagam Jakarta di pembukaan UUD 1945. Sebuah sikap yang tidak bertentangan dengan fiqh (hukum) Islam, karena kalau keputusan penghapusan itu diambil oleh para pemimpin Islam yang tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari berbagai aliran, ternyata tidak ditentang oleh para pejuang yang tegar dari masa itu, seperti KH M. Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang dan KH M. Bisri Sansuri, Denanyar, Jombang.
Jakarta, 7 Februari 2002

Thoriqoh di Ngroto & Syaikh Ahmad Asrori al-Ishaqi Surabaya

Tulisan dibawah ini adalah mengenai sosok salah satu ulama besar yang sedikit banyak mempunyai ikatan emosional dengan Ngroto. Beliau adalah Hadratussyaikh Ahmad Asrori Al-Ishaqi Rodhiallahuanhu. Ulama yang meskipun dengan keterbatasan kesehatannya, beberapa waktu lalu masih menyempatkan diri "kerso rawuh" di Majlis Dzikir & Haul Simbah Abdurrahman Ganjur & Simbah Sirojuddin.


Beliau juga merupakan penerus dari ayahandanya yaitu Hadratusyaikh Utsman Al-Ishaqi dalam mengembangkan Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah (Al-Oetsmaniyyah) di Wilayah Ngroto.

Ngroto sendiri berdasarkan cerita tutur masyarakat sekitar merupakan daerah yang menjadi salah satu tonggak awal penyebaran Thoriqoh ini di Propinsi Jawa Tengah & D.I Yogyakarta.


Dikisahkan, suatu saat Syaikh Utsman ketika selesai berziarah dari Makam Simbah Abdurrahman Ganjur & Simbah Sirojuddin bertemu dengan K.H Masduri Damanhuri ( salah satu Ulama Kharismatik di Ngroto ). Beliaupun bercerita mengenai kebiasaannya berziarah ke Ngroto yang sering dilakukan tanpa mengenal waktu (bahkan ditengah malam) & tanpa sepengetahuan masyarakat sekitar. ( Sebagai catatan: disekitar waktu itu, belum ada jembatan penyeberangan yang menghubungkan Ngroto dengan Desa Jeketro/Genggang. Alat tranportasi penyeberangan masih berupa perahu/sampan/gethek. Bahkan sering kali masyarakat sekitar menggunakan gedebog / batang pohon pisang untuk menyeberang ke desa tetangga:Red ).


Pada saat pertemuan pertama beliau berdua, K.H Masduri belum menyadari bahwa tamu yang beliau ajak bercerita itu adalah seorang ulama besar Thoriqoh, mekipun menurut kisah: Syaikh Utsman ketika berziarah di Ngroto terlihat sering dikawal oleh beberapa orang yang berbadan tegap. Setelah beberapa kali bertemu, barulah K.H Masduri di “ dawuhi “ diajak untuk ikut mengembangkan ajaran Thoriqoh yang dibawa oleh Syaikh Utsman.


Dilain waktu, beliau berdua juga saling berbagi cerita tentang segala hal, termasuk tentang keinginan Syaikh Utsman untuk menikahkan salah satu putri beliau dengan putra asli Ngroto, dengan harapan semoga bisa terus menyambung tali silaturahmi dengan Ngroto.

Atas izin Alloh, setelah beberapa tahun Syaikh Utsman meninggal dunia, apa yang sempat beliau sampaikan untuk menikahkan putri beliau akhirnya terwujud juga. Salah satu Putri beliau yang masyarakat awam sering melafalkan nama, Nyai Mimik ( Nyai Faichatul Miskiyah ) menikah dengan K.H Munir Abdullah yang notabene masih kerabat dekat dengan K.H Masduri Damanhuri.


Perkembangan thoriqoh ini di wilayah Ngroto mengalami perkembangan yang sangat pesat. Syaikh Asrori sebagai penerus estafet kemursyidan dari Syaikh Utsman melanjutkan jalinan silaturrahmi yang dirintis oleh ayahanda dengan sering hadirnya beliau dalam setiap Majlis Dzikir & Haul Ngroto.(Photo:Istimewa/internet:)

---------------------------------------------------------------------------------------------

* Tulisan diatas ( atau klik disini ) merupakan opini pribadi berdasar cerita yang pernah didengar oleh penulis, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dan mohon dikoreksi apabila ada kesalahan. Berikut adalah sedikit kisah tentang Hadratussyaikh Ahmad Asrori Al-Ishaqi yang sumber tulisannya dari SINI. * Foto diatas merupakan gambaran acara khoul di Ngroto tahun 2007 (mungkin bukan menggambarkan "kerawuhan" Hadratussyaikh Ahmad Asrori Al-Ishaqi:red) Syech Ahmad Asrori al-Ishaqi Surabaya

---------------------------------------------------------------------------------------------

Mengutip dari sebuah Blog mengenai Biografi Yai Utsman Al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya, diriwayat tersebut Bab III ditulis mengenai awal mula Yai Utsman datang ke Ngroto.

" Kyai Masduri Ngroto menceritakan kepada kami sejarah masuknya Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut : Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru Thoriqoh yang berusaha memasukkan Thoriqoh ke Ngroto bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firoq karena tidak berhasil memasukkan Thoriqoh.


Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadrotus-Syaikh mulai pertama datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama datang ke Ngroto bersama Hadrotus-Syaikh. Kemudian untuk kedua kalinya datang pada tahun 1966 M saya di panggil ke rumah paman, dan Hadrotus-Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan : Sabarlah ! sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka do’akanlah semoga panjang umur. Sepulangnya Hadrotus-Syaikh dapat 15 hari paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang kesurabaya di Surabaya saya dibai’at dan diberi ijazah Manaqib secara mutlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadrotus-Syaikh maka tersebarlah Thoriqoh di Ngroto.


Pada suatu hari di bulan Muharram Hadrotus-Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara Haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto, kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan, maka Hadrotus-Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya, yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri maka Hadrotus-Syaikh mengatakan : saya tidak dapat membalas sama sekali. hanya saya do'akan mudah-mudahan masyarakat disini selamat semua, maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada Manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang sholat bahkan tidak ada masjid dan musholla, tetapi berkat dilewati oleh Hadrotus-Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya ada masjid dan banyak musholla dan Imammuddin serta sebagian kaum musimin disitu sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan : masuknya Hadrotus-Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman : Ngroto adalah bau Madura. dan Hadrotus-Syaikh pernah mengatakan : saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. apakah ada Waliyyulloh di sana ? ¬ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.


Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan : sekembalinya saya dari Surabaya pada suatu hari saya sakit mata, walaupun sudah berobat tetap tidak mau sembuh kecuali hari Kamis dan Jum'at saja. Maka pada suatu malam Jum'at saya membaca Al-Fatihah kemudian membaca sil¬silah maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadrotus-Syaikh, beliau menanyakan kepada saya : apakah matamu sakit ? Apakah yang sakit sebelah kanan? maka mata diobati oleh Hadrotus-Syaikh dengan jari-jarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul, maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya : Apakah matamu sudah sembuh ? saya menjawab : Ya. kemudian beliau menyatakan : Ya saya obati dari sini.

Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi : pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadrotus-Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan : Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud.
Sesampai saya di lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya. Kyai Masduri menceritakan lagi bahwa Hadrotus-Syaikh menceritakan kepadanya sebagai berikut : Pada suatu hari Jum'at ada orang hendak menunaikan sholat Jum’at di masjid Ampel, kemudian saya panggil, saya ajak sholat Jum’at di Baitul Ma'mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma'mur, ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.


Cerita lain dari Kyai Masduri adalah sebaga berikut : saya bermimpi sholat di musholla yang penuh dengan mushollun, karena mereka sholat semuanya saja, maka saya mengingkarinya dan Hadrotus-Syaikh menjadi ma'mum tidak tahu siapa yang menjadi imam dan beliau mengatakan kepada Saya : mereka adalah Wali-wali Alloh, dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir a.s. beliau mengajak saya ketepi sungai disana ada musholla yang bersinar terang, tahu-tahu disitu ada Hadrotus-Syaikh dan kita bertiga menjadi ma’mum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya. "

Untuk membaca lebih lanjut tentang Biografi Hadrotussyaikh Kyai Utsman bisa KLIK DISINI.

----------------------------------------------------------------------------------------------



KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy.


Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri.Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman berputra 13 orang.


Berikut silsilahnya : Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.


Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur.


Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur.


Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya. Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang.


Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya).


Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu. Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih.


Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.


Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.


Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah.


Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.


Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari.


Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah.


Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning.


Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun.Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya.


Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.


Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya.


Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan.Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik.


Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.


SILSILAH THORIQOH QODIRIYYAH WA NAQSHABANDIYYAH


41. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi Bertalqin dan berbai’at dari :

40. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Muhammad ‘Utsman bin Nadiy Al IshaqiBertalqin dan berbai’at dari :

39. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abi Ishamuddiyn Muhammad Romliy At Tamimimiy Bertalqin dan berbai’at dari :

38. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Kholil Rejoso Bertalqin dan berbai’at dari :

37. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Hasbullaah Madura Bertalqin dan berbai’at dari :

36. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Ahmad Khothib As Sambasiy Bertalqin dan berbai’at dari :

35. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

34. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Murod Bertalqin dan berbai’at dari :

33. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Fattaah Bertalqin dan berbai’at dari :

32. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Kamaluddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

31. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Utsman Bertalqin dan berbai’at dari :

30. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdur Rohiym Bertalqin dan berbai’at dari :

29. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Bakar Bertalqin dan berbai’at dari :

28. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Yahya Bertalqin dan berbai’at dari :

27. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Chisamuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

26. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Waliyuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

25. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Nuruddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

24. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Zainuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

23. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Syarofuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

22. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

21. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Muhammad Al Hataki Bertalqin dan berbai’at dari :

20. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul ‘Aziyz Bertalqin dan berbai’at dari :

19. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Qodir Al Jiylani Bertalqin dan berbai’at dari :

18. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Sa’id Al Mubarrok Bertalqin dan berbai’at dari :

17. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Hasan Ali Al Hakariy Bertalqin dan berbai’at dari :

16. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abul Faraj Al Thurthusiy Bertalqin dan berbai’at dari :

15. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Wahid Al Tamimi Bertalqin dan berbai’at dari :

14. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abu Bakar As Shibliy Bertalqin dan berbai’at dari :

13. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abdul Qosim Junaiyd Al Baqhdadiy Bertalqin dan berbai’at dari :

12. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Sari As Siqthi Bertalqin dan berbai’at dari :

11. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Al Ma’ruf Al Karkhi Bertalqin dan berbai’at dari :

10. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Abul Hasan Ali Ridlo Bertalqin dan berbai’at dari :

9. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Musa Kadziym Bertalqin dan berbai’at dari :

8. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ja’far As Shodiyq Bertalqin dan berbai’at dari :

7. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Imam Muhammad Baqir Bertalqin dan berbai’at dari :

6. Al Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Zainul Abiddiyn Bertalqin dan berbai’at dari :

5. Al Arif Billaah Sayyidina Husain RodliyallaaHhu ‘anhu Bertalqin dan berbai’at dari :

4. Al Arif Billaah Sayyidina Ali Karromallaahu Wajhahu Bertalqin dan berbai’at dari :

Sayyidil Mursaliyn wa Habiybi Robbil ‘aalamiyn, Rosul utusan Allaah kepada sekalian kepada Makhluk, yakni Sayyidina Muhammad SAW

3. Rosuulullaah Muhammad SAW Bertalqin dan berbai’at dari :

2. Sayyidina Jibril Alaihis-salamBertalqin dan berbai’at dari :

1. Allah SWT


Meninggalnya KH Asrori Al Ishaqi (58), menjadi berita duka bagi keluarga besar Pondok Al Fithrah dan jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Tanah Air.


Siapa sosok Kiai Asrori?


Kaum muslimin Indonesia berduka, tepat disaat menyambut Harlah Bangsa Indonesia, telah berpulang kehadirat Allah SWT dengan penuh senyum, Mbah KH Achmad Asrori Al-Ishaqi, tanggal 18 Agustus 2009 pada pukul 02.20 WIB.


Hadrotusy Syeikh Ahmad Asrory Al Ishaqi, Mursid Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqshabandiyyah, wafat karena sakit komplikasi yang dideritanya selama ini. Dia sempat dioperasi dan menjalani check up di Singapura sebelum meninggal dunia.“Almarhum meninggal kemungkinan besar karena faktor usia dan kelelahan maupun penyakit ginjal yang dideritanya meski sempat menjalani operasi di RS Lafayat Malang,” kata salah satu kerabat Djudjuk M Usdek Kariono kepada wartawan.


Bagi para santri dan petakziyah yang tidak bisa melihat dari dekat proses pemakaman KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi, pihak ponpes menyiapkan beberapa televisi yang ditempatkan di beberapa titik di kompleks ponpes itu.

Sementara Jalan Kedinding Lor ditutup total. Pasalnya jalan itu dipadati oleh para pelayat maupun kendaraan baik roda dua dan roda empat. Bahkan di Jalan Kedung Cowek atau jalan akses menuju Jembatan Suramadu digunakan sebagai parkir kendaraan pelayat.

Tampak karangan bunga dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa karangan bunga lainnya berasal dari Gubernur Jawa Timur, Sekretaris Pemkot Surabaya dan para pengasuh pondok pesantren se Jawa Timur.

Presiden SBY sempat bertandang ke ponpes tersebut Rabu (28/1/2009) lalu. Di ponpes itu SBY menyerahkan bantuan dan beasiswa bagi pondok pesantren di Indonesia termasuk Assalafi Al Fithrah.Jenazah Kyai ASRORI dimakamkan sebelum waktu sholat Dhuhur di lingkungan Pondok Pesantren Kedinding Lor.


Pemakaman Kyai Asrori dihadiri Muspida, KH ABDUR RASYID pemimpin pesantren, WISNU BROTO Direktur Pendidikan Pondok Pesantren Departemen Agama dan Kombespol RONNIE F SOMPIE Kapolwiltabes Surabaya.


KARANGAN bunga duka cita dari sejumlah tokoh penting masih berdiri kokoh di pintu gerbang Pondok Assalafi Al Fithrah di Jalan Kedinding Lor 99 Kota Surabaya. Ada karangan bunga dari Presiden SBY, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bahrul Alam, Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ronny F Sompie, dan Wali Kota Surabaya Bambang DH.


Para petakziah pun terus berdatangan. Mereka langsung ziarah ke makam tokoh dan mursyid jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, KH Asrori Al Ishaqi, di depan masjid pondok.


Gundukan bekas tanah galian makam masih terlihat basah. Hamparan karpet warna hijau dan sejumlah sekatan kayu lapis bercat putih yang diposisikan sekitar 5 meter dari makam berdiri. Kayu ini untuk membatasi barisan depan peziarah dengan lokasi makam Kiai Asrori.Para pengurus atau pimpinan pondok pun masih larut dalam suasana duka. ”Masih suasana duka, tak ada wawancara sampai tujuh hari sepeninggal Pak Kiai (Asrori),” ujar seorang santri usai shalat zuhur, kepada Suara Merdeka.


Berdasar referensi tertulis, Kiai Asrori adalah anak KH Utsman Al Ishaqi, sahabat KH Mustain Romli dari Pondok Darul Ulum Rejoso, Jombang. Nama belakang Ishaqi pada Kiai Utsman dinisbahkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman dinilai masih ada jalinan keturunan dengan Sunan Giri.


Sebagai Mursyid Kiai Asrori adalah anak Kiai Utsman dan memiliki 13 saudara yang kini tinggal 9 orang. Kiai Utsman meninggal pada Januari 1984 pada usia 77 tahun. Kiai Utsman adalah santri KH Ramli Tamim, ayah KH Mustain Ramli.


Ketika Kiai Ramli Tamim masih hidup, ada 3 kiai yang dibaiat sebagai mursyid (pimpinan tarekat) Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, yakni KH Utsman Al Ishaqi Kedinding Lor Surabaya, KH Makki Karangkates Kediri, dan KH Bahri Mojosari Mokojerto.Berdasar buku ”Politik Tarekat” yang ditulis Mahmud Sujuthi (2001), sepeninggal Kiai Utsman, estafet kepemimpinan lembaga tarekat dipimpin Kiai Asrori, saat usia baru 30 tahun.


Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah berkembang dan memperoleh apresiasi dari banyak umat. Ada kegiatan yang disebut khususiyah yang dihelat tarekat ini yang dihadiri rata-rata 4.000 orang di Pondok Al Fithrah.“Yang menarik pengamal tarekat pimpinan Kiai Asrori adalah sebagian besar karyawan swasta, PNS, ilmuwan, dan tokoh penting pemerintahan.


Di kalangan Tarekat Kedinding Lor yang berhak melakukan baiat kepada anggota baru adalah Kiai Asrori saja selaku mursyid, tak ada khalifah atau badal atau wakil mursyid sebagaimana tarekat Cukir Jombang dan Rejoso Jombang,” tulis Mahmud Sujuthi.

Sebagaimana anak kiai besar dan dihormati karena ilmunya yang tinggi, Kiai Asrori dalam menimba ilmu dan pengetahuan agama mengembara dari satu pondok ke pondok lainnya. Tapi, tempo mondoknya tergolong singkat.

Kabarnya, Kiai Asrori pernah nyantri di Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang hanya setahun. Demikian pula di Pondok Pare Kediri dan Pondok Bendo juga setahun.


Anak Macan


Yang menarik, ketika mondok di Pondok Rejoso Jombang, Kiai Asrori tak aktif mengikuti ngaji. Namun itu tak membuat risau KH Mustain Ramli, pimpinan Pondok Rejoso. “Biarkan saja, anak macan kan akhirnya jadi macan juga,” kata Kiai Mustain Ramli.


Karena kepintarannya yang luar biasa, terutama di bidang ilmu agama, di kalangan kiai dan santri pondok, Kiai Asrori dinilai memiliki ilmu laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Dia memperoleh ilmu itu tanpa melalui proses belajar-mengajar yang wajar sebagaimana dijalani santri pondok pada umumnya.


Selama menimba ilmu di Pondok Rejoso itu, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Imam Al Ghazali dengan sangat baik. “Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya,” ujar KH Utsman Al Ishaqi sebagaimana dikutip dari buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi.


Karena kepintarannya itu, tak ada keraguan sedikit pun pada Kiai Utsman untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan tarekat yang dipimpinnya kepada anaknya, Kiai Asrori. Kendati Kiai Asrori bukan anak laki-laki tertua dari 9 bersaudara.“Kiai Asrori ulama tarekat yang luar biasa dan istiqomah menjalankan perannya itu dengan baik. Karena itu, semua fatwa dan pandangannya diikuti umatnya. NU sangat kehilangan sepeninggal beliau,” kata Rois Syuriah NU Jatim, KH Miftakhul Akhyar.


Tarekat Qodiriyyah Wan Naqsabandiyah Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan Kiai Asrori termasuk 3 lembaga tarekat besar di lingkungan NU. Dua lembaga tarekat lain adalah Tarekat Rejoso Jombang di bawah pimpinan KH Mustain Ramli dan Tarekat Cukir Jombang dengan pimpinan KH Adlan Ali.


Hakikatnya, ketiga tarekat itu awalnya bersumber dari satu wadah, yakni Tarekat Rejoso Jombang. Setelah KH Mustain Ramli merapat ke Golkar pascapemilu 1971 dan mendukung partai itu pada pemilu 1977, terjadi pembelahan tarekat di kalangan NU.


Yang berdiri berseberangan secara politik dengan Tarekat Rejoso adalah Tarekat Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali. Tarekat Cukir ketika itu dekat dengan kalangan PPP dan Pondok Tebuireng Jombang di bawah pimpinan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).


Tarekat Kedinding Lor di bawah KH Utsman Al Ishaqi memisahkan diri dari Tarekat Rejoso di bawah mursyid KH Mustain Ramli bukan karena pertimbangan politik yakni masuknya Kiai Mustain ke Golkar. Tapi, karena Kiai Mustain menghapus KH Utsman Al Ishaqi dari silsilah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Rejoso. Padahal, yang mengangkat Kiai Mustain sebagai mursyid adalah Kiai Utsman atas permintaan Nyi Djah, bukan langsung dari ayahnya KH Ramli Tamim.


Pada era 1970-an, komunitas tarekat yang identik dengan kalangan NU itu menjadi sasaran penguasa Orde Baru untuk dirangkul. Soeharto melalui Golkar berhasil merebut dan mengambil hati KH Mustain Ramli yang memimpin Tarekat Rejoso. Padahal, saat itu sebagian besar kiai, tokoh, dan warga NU merapat ke PPP. Sebab, partai ini dinilai sebagai satu-satunya partai yang mewadahi dan memperjuangkan aspirasi umat Islam dan berasas Islam pula.


Karena itu, kiai tarekat lain yang lebih dekat ke PPP mendirikan Tarekat Cukir dengan tokoh utama KH Adlan Ali dan didukung Pondok Tebuireng. Dalam perspektif politik, Tarekat Rejoso dan Cukir berada di posisi berseberangan. Di sisi lain, Tarekat Kedinding Lor berada di titik netral. Tak terikat dengan partai mana pun maupun menyandarkan diri di antara Tarekat Rejoso dan Cukir.


Dari sisi perilaku politik, Tarekat Rejoso bersifat adaptif kompromis, Tarekat Cukir bersifat antagonis, dan Tarekat Kedinding Lor bersifat kooperatif.


Selain itu, dari sudut pola pemikiran, antara Tarekat Rejoso dan Kedinding sama-sama bersifat rasionalistik, realistik, dan substantivistik. Sedang Tarekat Cukir bersifat skripturalistik, idealistik, dan formalistik.

Cuma dari sisi afiliasi politik, antara ketiga tarekat itu berbeda-beda. Tarekat Rejoso merapat ke Golkar, Tarekat Cukir bersandar ke PPP, dan Tarekat Kedinding Lor berposisi netral.


Karena sifat netralnya secara politik, Tarekat Kedinding Lor di bawah pimpinan Kiai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dengan berbagai kalangan di tingkat nasional.

Kiai Asrori memiliki akses dengan pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Ketika Ibu Tien Soeharto wafat dan diperingati 100 hari kematiannya, Kiai Asrori yang memimpin tahlil akbar di Ndalem Kalitan Solo dan makam Astana Giribangun Karanganyar, Jateng.

Tapi, Tarekat Kedinding Lor tak pernah mengarahkan jamaahnya untuk memilih parpol tertentu pada pemilu, termasuk pada pileg dan pilpres 2009 lalu.


Pondok Al Fithrah, selain dikenal sebagai mursyid Tarekat Kedinding Lor Surabaya, Kiai Asrori mewarisi peran ayahnya sebagai pengasuh ponpes. Pondok Assalafi Al Fithrah yang didirikan tahun 1985 bersama 3 santri Pondok Darul Ubudiyah Jatipurwo Surabaya, yakni Zainal Arief, Wahdi Alawy, dan Khoiruddin sekarang mengalami perkembangan pesat.

Pondok Al Fithrah kini memiliki 2.600 santri dan santriwati. Dari jumlah itu, 1.209 santri bersifat menetap dan yang tak menetap sebanyak 1.391 santri. Pondok yang berdiri di atas lahan 4 hektare lebih itu, memiliki lembaga pendidikan di semua tingkatan, dari tingkat TK, MI, MTS, MA, dan STIU Al Fithrah.


Ada sejumlah kegiatan unggulan Pondok Al Fithrah dibanding pondok salaf lainnya di lingkungan NU. Di antaranya, jamaah maktubah, aura aurod, dan qiroatul Alquran. (Ainurrohim-77)dikutib sesuai aslinya dari Kitab Al Khulashotul wa fiy-yah, fil Aadabi wa Kaifiy-yatidz-dzikri indas-saadatil Qodiyiyyah Wan naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah


MENYATUKAN UMMAT LEWAT THARIQAH


“Beliau masih muda. Namun, Surabaya dan Jawa Timur bahkan seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara seperti dalam genggaman pengaruhnya, itulah KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi putra keenam KH. Utsman asal Kedinding Lor Surabaya Jawa Timur.”


Minggu pagi akhir bulan Pebruari tahun 2006 lalu kawasan Lapangan Mataram Kota Pekalongan yang biasanya ramai oleh masyarakat yang ingin berolah raga ringan, berbelanja dan sekedar jalan jalan untuk menikmati udara pagi, hari itu tampak lain dari hari-hari minggu sebelumnya. Puluhan keamanan sejak subuh disibukkan oleh kehadiran puluhan ribu masyarakat berbaju putih putih dari berbagai penjuru kota di Jawa untuk mengatur arus lalu lintas.


Saking padatnya, Jalan Wilis dan Sriwijaya merupakan jalur utama jurusan Semarang Jakarta harus ditutup total selama 24 jam dan disulap menjadi area parkir kendaraan roda dua dan empat atau lebih. Bahkan malam sebelumnya puluhan rombongan bis bis pariwisata dan reguler serta ratusan kendaraan pribadi sudah memasuki wilayah Kota Pekalongan yang terkenal dengan industri batiknya menuju satu titik, yakni Lapangan Mataram.


Ada apa gerangan ?Di Lapangan Mataram inilah tidak kurang dari lima puluh ribu kaum muslimin dan muslimat, dari anak-anak hingga orang dewasa dari berbagai penjuru tanah air secara bersama sama melakukan kegiatan istighotsah, manaqib Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro RHa dan tahlil akbar dalam rangka “Haflah dzikir, Maulidurrasul dan Haul Akbar Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro RHa.” yang dipimpin langsung oleh ulama kharismatik penyejuk ummat asal Kedinding Lor, Semampir, Surabaya Jawa Timur, yakni KH. Ahmad Asrori Utsman Al Ishaqi.


Suara gema istighotsah dan tahlil akbar mengguncang langit Kota Pekalongan di pagi hari menembus cakrawala hingga radius dua kilometer. Kota Pekalongan yang biasanya ramai oleh hiruk pikuk masyarakat sibuk dengan urusannya masing masing, hari itu ikut larut dalam gema istighotsah dan tahlil. Apalagi kegiatan ini disiarkan langsung oleh tiga radio yang sudah punya nama di Kota Pekalongan dan Batang, yakni Radio Amarta FM, Radio Abirawa Top FM dan Radio PTDI Walisongo, maka lengkaplah suasana di pagi hari yang cerah dengan busana putih putih di atas hamparan rumput hijau dengan menyebut asma Allah hingga ribuan kali sampai menggetarkan kalbu yang gersang oleh kondisi zaman.


“Kegiatan bertaraf internasional ini diselenggarakan tidak hanya semata-mata mendo’akan istri Rasulullah SAW Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro saja, akan tetapi juga mendoa’akan sesepuh para ulama, syuhada’ dan sholihin serta ummat Islam yang telah ikut berjasa dalam pengembangan agama Islam di wilayah Kota Pekalongan dan sekitarnya”, ujar Ketua Umum Pengurus Pusat Jama’ah Al Khidmah H. Hasanuddin, SH. kepada NUBatik Online.


Maka, tidaklah mengherankan jika masyarakat begitu antusias mengikuti acara yang baru pertama kali digelar di Kota Pekalongan.Bayangkan saja, lapangan Mataram yang cukup luas itu disulap oleh panitia menjadi arena berdzikir bak tenda besar. Seluruh lapangan tertutup rapat oleh tenda tidak kurang dari 250 set layos (tratag) dan di dalamnya membentang panggung raksasa ukuran 50 x 16 meter persegi dengan dekorasi yang cukup mewah. Untuk persiapannya saja, memerlukan waktu tiga hari memasangnya dan pihak panitia mendatangkan secara khusus panggung dan dekorasi dari Ponpes Al Fithrah Semarang.


Bahkan untuk mengcover arena agar seluruh peserta dzikir dapat mendengar dengan baik, pihak panitia mendatangkan secara khusus sound system berkekuatan 30 ribu watt dari Malang Jawa Timur yang diangkut satu truk tronton, di tambah dengan 6 set sound system lokal dengan kekuatan masing masing 3 ribu watt, sehingga peserta / pengunjung yang hadir dapat mengikuti acara demi acara dengan baik dan khusu’, saking besarnya kekuatan sound system, acara tersebut dapat didengar hingga radius 2 kilometer.


Mayoritas jama’ah yang hadir memang datang dari seluruh pelosok Jawa Tengah. “Kami sengaja hadir di majelis ini, karena pada tahun ini hanya diselenggarakan di Pekalongan”, ujar Mukminin asal Jepara. Dirinya membawa beberapa bis untuk mengangkut rombongan asal kota ukir Jepara. “Kegiatan tahun kemarin di Kabupaten Demak kami juga membawa rombongan lebih besar, akan tetapi karena kali ini agak jauh maka tidak banyak yang kami bawa” kata pemuda yang masih lajang ini. Hal senada juga diungkapkan Rohman pimpinan rombongan asal Grobogan dan Nur Kholis asal Salatiga. Selain Jawa Tengah, tidak sedikit pula rombongan berasal dari Jawa Timur, Madura, Jawa Barat dan Jakarta. Hal ini terlihat dari kendaraan berplat nomor AG, L, W, N, B dan lain lain. Bahkan juga hadir puluhan jama’ah asal mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Timur Tengah.


Rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung di sekitar Lapangan Mataram seperti Gedung Wanita, Kantor MUI, Balai Kelurahan Podosugih, Balai Kelurahan Bendan, Rumah Singgah Dupan Mall, Gedung Balai Latihan Kerja (BLK), serambi-serambi Masjid, Musholla hingga ruko berubah fungsi menjadi tempat penginapan. “Saya setiap pagi selalu mendengarkan pengajian Kiai Asrori di Amarta FM, materinya sangat disukai masyarakat dan menyejukkan hati, jadi sangat wajar jika masyarakat sekitar sini dengan antusias rumahnya menjadi tempat penginapan”, kata Ibu Romlah asal Podosugih Kota Pekalongan.


Bahkan Paguyuban warung makan Lamongan yang banyak tersebar di kawasan jalur Pantura secara ikhlas menyediakan makanan dan minuman gratis untuk para tetamu yang telah hadir pada malam sebelumnya.


Uswah khasanah


Kalau ada pertanyaan, faktor apa yang mempersatukan mereka, bahkan rela berdesak-desakan selama berjam-jam ? jawabannya ada dua, yaitu Thariqah dan sosok Kiyai Asrori sendiri selaku Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah (dinisbatkan kepada Kiai Utsman).


Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli Tamim (ayah KH. Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya.


Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai Asrori inilah jama’ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.


Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. “Terima kasih, kasihan orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil sendiri, lebih baik dibagi-bagi”, ujarnya.


Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan) serta bangunan masjid yang cukup besar.


Hingga kini, murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.


Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.


Sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.


Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga para selebritis ternama. Jama’ahnya tidak lagi terbatas kepada para pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan thariqah.


Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.


Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jama’ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer.


Baiat thariqah


Kini, ulama yang usianya belum genap lima puluh tahun itu menjadi magnet tersendiri bagi sebagian kaum, khususnya ahli thariqah. Karena kesibukannya melakukan pembinaan jama’ah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air hingga mancanegara. Kiai Rori menyediakan waktu khusus buat para tamu, yakni tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jama’ah baru maupun lama dilakukan seminggu sekali. (ada tiga macam pembaiatan, yaitu Baiat Bihusnidzdzan, bagi tingkat pemula, Baiat Bilbarokah, tingkat menengah dan Baiat Bittarbiyah, tingkat tinggi).


Untuk menapaki level level itu, tiap jama’ah diwajibkan dzikir rutin yang harus diamalkan oleh murid yang sudah berbaiat berupa dzikir jahri (dengan lisan) sebanyak 160 kali dan dzikir khafi (dalam hati) sebanyak 1000 kali tiap usai sholat. Kemudian ada dzikir mingguan berupa khususi yang umumnya dilakukan jama’ah per wilayah seperti kecamatan.


Thariqah yang diajarkan Kiai Rori memang dirasakan berbeda dengan thariqah atau mursyid mursyid lainnya pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kiai Rori. Beliau sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus-menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan hijriyah dan kunjungan rutin ke berbagai daerah.Untuk membina jama’ah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, bahkan Kiai Rori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali.


Ada lima radio di Jawa Tengah yang dimilikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kiai Rori, yakni Radio Rasika FM dan “W” FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal berada di Slawi.


Radio radio inilah setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat istighotsah di awal dan tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar di Kota Pekalongan beberapa waktu lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.


Dalam setiap memberikan siraman rohani, Kiai Rori menggunakan rujukan Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al Bantani, Al Hikam karya Imam Ibnu Atha’illah dan lain lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal tasawuf, Kiai Rori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, KH. Nurul Huda pernah bertutur, sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan do’anya sanggup menggetarkan hati seperti Kiai Asrori. Hal senada diakui oleh KH. Abdul Ghofur seorang ulama asal Pekalongan, Kiai Asrori seorang figur yang belum ada tandingnya, baik ketokohannya maupun kedalaman keilmuan dan spiritualnya.


Jama’ah Al Khidmah sebagai wadah


Sadar bahwa manusia tidak akan hidup di dunia selamanya, Kiai Asrori telah berfikir jauh ke depan untuk keberlangsungan pembinaan jama’ah yang sudah jutaan jumlahnya. Perkembangan jumlah murid cukup menggembirakan ini sekaligus mengundang kekawatiran. Apa pasal ? banyaknya murid yang berbaiat di Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah menunjukkan bahwa ajaran ini memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi murid murid yang telah berbaiat terus dibina melalui berbagai majelis, sehingga amalan-amalan dari sang guru tetap terpelihara.


Di sisi lain banyaknya murid juga mengundang kekhawatiran sang guru. Karena mereka tidak terurus dan terorganisir dengan baik, sehingga pembinaannya pun kurang termonitor. Kondisi inilah yang mendorong beberapa murid senior memiliki gagasan untuk perlunya membentuk wadah di samping dorongan yang cukup kuat dari Kiyai Asrori sendiri, sehingga diharapkan dengan terbentuknya wadah bagi para murid-muridnya dapat lebih mudah melaksanakan amalan amalan dari gurunya.


Maka dibentuklah wadah bernama “Jama’ah Al Khidmah”. Organisasi ini resmi dideklarasikan tanggal 25 Desember 2005 kemarin di Semarang Jawa Tengah, dengan kegiatan utamanya ialah menyelenggarakan Majelis Dzikir, Majelis Khotmil Al Qur’an, Maulid dan Manaqib serta kirim do’a kepada orang tua dan guru-gurunya. Kemudian menyelenggarakan Majelis Sholat Malam, Majelis Taklim, Majelis Lamaran, Majelis Akad Nikah, Majelis Tingkepan, Majelis Memberi nama anak dan lain lain.

H. Hasanuddin menjelaskan, organisasi ini sengaja dibentuk bukan karena latah apalagi berorientasi ke politik praktis, akan tetapi semata mata agar pembinaan jama’ah lebih terarah dan teratur. Siapapun bisa menjadi anggotanya, baik yang sudah baiat atau yang belum baiat.

Seperti kegiatan kegiatan Haul Akbar di Kota Pekalongan tempo hari merupakan salah satu bukti bahwa kegiatan Jama’ah Al Khidmah banyak diminati oleh berbagai kalangan khususnya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.


Meskipun di wilayah ini belum banyak yang menyatakan baiat ke Kiai Asrori, ternyata magnet kiai yang berpenampilan kalem dan sederhana ini dapat menghadirkan puluhan ribu ummat Islam untuk duduk bersimpuh bersama-sama dengan para kiyai, ulama, habaib dan ratusan undangan lainnya untuk bersama-sama melakukan dzikir dan mendoa’akan istri Rasulullah Ummil Mukminin Sayyidatina Siti Khodijah Al Kubro yang kini telah mulai banyak dilupakan ummat Islam.


Acara ini memang tergolong khusus, pasalnya kegiatan Haul Sayyidatina Siti Khodijah tidak lazim dilaksanakan oleh ummat Islam. sehingga banyak yang tidak menyangka kegiatan ini akan mendapat perhatian yang cukup besar. Bahkan Habib Umar Bin Salim cucu Rasulullah SAW asal Hadramaut Yaman Yordania yang hadir dalam secara khusus di majelis dzikir itu mengatakan, sudah selayaknya ummat Islam mendoakan istri Rasulullah, karena beliau mempunyai peranan yang sangat penting dan banyak jasanya membantu Rasulullah dalam pengembangan ajaran Islam. ”Kami siap hadir setiap majelis ini digelar”, ujarnya usai acara.


Telah meninggal dunia pada hari ini 26 Sya’ban 1430 H./18 Agustus 2009 pukul 02:20 WIB, KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI, Kedinding SurabayaBeliau adalah mursyid Thoriqoh Qodiriyah & Naqsabandiyyah saat ini, semoga Allah senantiasa mengampuni semua dosanya.

Kisah Simbah Sirodjudin Ngroto ( Kyai Siradjudin )

Riwayat Kyai Siradjudin

Memang sedikit sekali yang dapat diceritakan tentang riwayat Kyai Siradjudin. Menurut cerita bahwa nama asli beliau adalah Umar, berasal dari suatu daerah di Jawa Timur. Setelah tamat belajar di pondok pesantren Ngampel Surabaya, beliau bersama 4 orang santri lainnya didadar (diuji) gurunya. Sebagai bentuk pendadaran tersebut, adalah pergi ke daerah sambil mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada warga.
Adapun nama lima orang santri yang melakukan pendadaran tersebut, ialah :
- Imamudin, diutus ke daerah Kajoran Magelang
- Khasanudin, diutus ke daerah Watu Congol Magelang
- Tholabudin, diutus ke daerah Karangasem Magelang
- Umar, diutus ke daerah Jatipecaron Gubug
- Basarudin,diutus ke daerah Pringapus Ambarawa.
Pertamakali datang di pedukuhan Jatipecaron, perkembangan pondok pesantren disana sudah berjalan baik. Karena itu kedatangan Kyai Siradjudin disana, hanya membantu kyai yang ada di pondok itu. Namun baru beberapa hari tinggal di pondok Jatipecaron, beliau mendengar tentang pondok pesantren dukuh Kuwaron yang tidak dapat berkembang baik. Hal tersebut disebabkan karena sering terjadi perselisihan antar warga, yang sulit untuk didamaikan. Kyai di pondok itu juga merasa kesulitan, untuk mengajak hidup rukun warga pedukuhan. Karena itu warga disana juga sulit diajak berkumpul, guna belajar mengaji secara bersama-sama. Mendengar cerita keadaan di pondok itu, Kyai Siradjudin tertarik mendatangi dan ikut menyelesaikan permasalahan itu. Dengan seizin kyai pondok Jatipecaron, Kyai Siradjudin berangkat ke pedukuhan Kuwaron.
Setelah Kyai Siradjudin datang di pedukuhan Kuwaron, ternyata apa yang diceritakan orang kepadanya ada kebenaran. Perkembangan pondok pesantren pedukuhan itu sangat memprihatinkan sekali, karena hanya sedikit para santri yang belajar mengaji disana. Upaya dari Kyai Siradjudin adalah mendamaikan setiap ada perselisihan antar warga, kemudian mengajaknya belajar mengaji. Menurut beliau bahwa hal itu perlu dilakukan, karena keberhasilan mendamaikan warga merupakan landasan utama untuk memajukan pondok pesantren pedukuhan Kuwaron.
Usaha keras Kyai Siradjudin berhasil baik, penduduk di pedukuhan Kuwaron dapat hidup rukun. Dengan dibantu beberapa Kyai yang lain, diajaknya mereka untuk mengaji. Adapun sebagai tempat yang digunakan untuk mengajar, berada di balai peninggalan para santri zaman dulu. Karena kepandaian dalam ilmu agama dan tekun dalam mengajar mengaji, maka Kyai Siradjudin diberi kepercayaan menjadi pemimpin pondok pedukuhan itu. Hingga berbulan-bulan lamanya Kyai Siradjudin tinggal di pedukuhan Kuwaron, yang pada akhirnya diajak Ki Demang Khamidin ke pedukuhan Ngroto. Melihat penduduk di pedukuhan Kuwaron yang sudah taat dalam beragama dan juga sudah ada beberapa orang kyai yang tinggal disana, maka permintaan Ki Demang Khamidin dikabulkan. Sebelum berangkat menuju ke pedukuhan Ngroto, beliau menyerahkan pimpinan pondok pesantren kepada salah seorang Kyai bernama Makidin. Adapun siapa Makidin itu dan berasal dari mana beliau, tidak ada warga desa Kuwaron sekarang ini yang dapat menceritakan.
Kyai Siradjudin wafat dalam usia lajut. Oleh warga pedukuhan beserta para pengikutnya, jenazah beliau dimakamkan di sebelah Timur makam Kyai Abdurrahman Ganjur. Memperhatikan jasa-jasa beliau dalam pengembangan agama Islam di pedukuhan Ngroto waktu dulu, maka diatas makam beliau dibuatkan cungkup dengan bentuk yang sangat cantik. Untuk menghormati jasa beliau, pada tiap tahun dilaksanakan acara haul terhadap arwah beliau. Adapun acara haul tersebut dilaksanakan tiap tanggal 1 Syura, bersamaan dengan haul Kyai Abdurrahman Ganjur.


Repost:
http://heruhardono.blogspot.com/2009/12/riwayat-kyai-siradjudin.html

Kisah Simbah Khamidin ( Ki Demang Khamidin Ngroto )

Ki Demang Khamidin
Kira-kira satu abad setelah Kyai Abdurrahman Ganjur wafat, datang seseorang bernama Khamidin ke pedukuhan Ngroto. Konon Khamidin adalah putra Mbah Samsudin, seorang petani dari dukuh Jatipecaron. Maksud kedatangannya di pedukuhan Ngroto, adalah untuk belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama Islam. Setelah tamat mengaji dia tidak kembali ke desanya, dan menikah dengan perawan dukuh setempat. Karena dianggap dapat memimpin warga, maka beberapa tokoh pedukuhan mengangkat dia menjadi Demang (kepala dukuh). Ternyata Ki Demang Khamidin benar-benar cakap memimpin warga, serta memperhatikan kemajuan pedukuhan dalam bidang agama dan pembangunan. Hal ini terbukti dengan didirikan sebuah masjid, yang terletak pada sebidang tanah miliknya. Untuk mengerjakan bangunan masjid dipercayakan kepada Kyai Soleh, dari desa Jatisari Salatiga (desa sebelah utara Bringin-Salatiga), dan dibantu penduduk setempat secara gotong royong. Setelah masjid selesai didirikan, banyak warga pedukuhan datang bersembahyang atau mengaji.
Pada suatu ketika warga yang datang mengaji di masjid berkurang, dan mereka hanya bergerombol di persimpangan jalan saja. Sangatlah sedih hati Ki Demang Khamidin, melihat warganya mulai enggan mengaji di masjid. Dari hasil laporan beberapa orang kepercayaannya diketahui, bahwa sebagai penyebab karena yang mengajar mengaji bukan kyai. Mendengar laporan itu, pergilah beliau mencari kyai yang mau mengajar mengaji kepada warganya. Dalam hati beliau bersumpah, tidak akan kembali ke pedukuhan kalau tidak membawa seorang kyai.
Pergilah Ki Demang Khamidin ke pondok pesantren pedukuhan Kuwaron, yang pada waktu itu memang sudah maju dan banyak santrinya. Beliau berfikir bahwa di pondok pesantren itu pasti memiliki kyai, yang mau diajak ke pedukuhan Ngroto. Ketika sampai di pondok pesantren Kuwaron, Ki Demang Khamidin bertemu Kyai Siradjudin sebagai pemimpin pondok. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Ki Demang Khamidin lalu meminta Kyai Siradjudin untuk bersedia diajak ke pedukuhan Ngroto. Tergeraklah hati Kyai Siradjudin mendengar cerita Ki Demang Khamidin, dan beliau ingin menyelesaikan masalah yang ada di pedukuhan Ngroto. Karena pondok pesantren Kuwaron waktu itu memiliki beberapa kyai, maka Kyai Siradjudinpun bersedia diajak ke dukuh Ngroto. Setelah memberi tugas kepada para kyai di pondok Kuwaron, maka Kyai Siradjudin berangkat mengikuti Ki Demang Khamidin.
Singkat cerita Ki Demang Khamidin kembali ke pedukuhan Ngroto, dengan mengajak serta Kyai Siradjudin. Melihat kedatangan Ki Demang Khamidin bersama seorang kyai, sangatlah senang hati warga pedukuhan Ngroto. Konon setelah itu, pada malam hari di serambi masjid penuh warga masyarakat pedukuhan yang datang. Setelah mendengar isi dakwah Kyai Siradjudin, semua merasa cocok dan bersedia diajar mengaji beliau. Ki Demang Khamidin merasa puas, karena warganya mau datang lagi ke masjid untuk belajar mengaji. Sebagai ungkapan rasa gembira, Kyai Siradjudin dinikahkan dengan adik perempuannya (nama kurang jelas). Hal itu mempunyai tujuan, agar Kyai Siradjudin betah tinggal di dukuh Ngroto.
Konon cerita, pada suatu ketika Kyai Siradjudin berjalan-jalan sendirian di pinggir sungai Tuntang. Karena kepandaian yang dimiliki, beliau dapat melihat ada dua makam lama yang tertimbun lumpur sungai. Melihat hal itu beliau menanyakan pada penduduk setempat, tentang siapa yang dimakamkan di pinggir sungai Tuntang itu. Dari keterangan warga akhirnya beliau tahu, bahwa yang dimakamkan disitu adalah Kyai Abdurrahman Ganjur berdampingan dengan ibunya Nyi Syamsiyah. Kyai Siradjudin terkejut mendengar penjelasan itu, dan beliaupun ingat cerita gurunya dulu tentang Kyai Abdurrahman Ganjur. Maka makam tersebut kemudian dibersihkan, dan diberinya nisan diatas kedua makam. Diajaknya semua penduduk dukuh Ngroto menghormati serta merawat makam itu, karena almarhum Kyai Abdurrahman Ganjur adalah orang yang berjasa mengislamkan penduduk dukuh Ngroto.
Kembali pada Ki Demang Khamidin, sebagai kepala dukuh Ngroto. Beliau wafat dalam usia sangat tua, dan oleh warga untuk jenazahnya dimakamkan di sebelah utara makam Kyai Abdurrahman Ganjur. Konon menurut cerita penduduk desa Ngroto, bahwa dulu nisan yang dipasang di makamnya berupa lesung yang diletakkan terbalik.
Masih menurut cerita penduduk, bahwa dulu makam Ki Demang Khamidin terkenal sangat wingit. Bila ada orang berjalan di dekat makam beliau tanpa mengucapkan salam, akan dibuat bingung. Tetapi pada sekitar tahun 1980 ketika sungai Tuntang banjir, air sungai menggenangi kompleks makam beliau. Lesung yang digunakan sebagai nisan hanyut terbawa banjir, tanpa seorangpun warga yang mengetahui. Melihat makam beliau tidak bernisan, digantinya dengan nisan batu. Anehnya setelah nisan beliau diganti nisan batu, makam Ki Demang Khamidin tidak wingit lagi seperti dulu.
Bangunan masjid desa Ngroto peninggalan dari Ki Demang Khamidin dulu, sampai sekarang ini masih berdiri kokoh. Bangunan tersebut terbuat dari kayu jati, dengan tiaqng-tiang utama yang terbuat dari kayu jati glondongan. Walaupun bangunan masjid itu sudah berpuluh-puluh tahun didirikan, tetapi anehnya di sudut-sudut bangunan tidak kelihatan ada rumah serangga yang menempel. Menurut keterangan warga setempat, bahwa dalam bangunan masjid itu selamanya belum pernah dibersihkan. Kentongan yang dibuat bersamaan waktu masjid tersebut dibangun, sekarang disimpan dekat tempat pengimaman. Hal itu perlu juga dilakukan, karena kentongan tersebut sudah lapuk dimakan usia. Adapun kentongan yang dipakai sekarang, adalah kentongan duplikat yang dibuat dari kayu nangka. Menurut cerita masyarakat desa Ngroto, bahwa ketika mencari kayu untuk masjid semuanya lupa mencari kayu yang akan dibuat menjadi kentongan. Karena tinggal beberapa hari masjid tersebut digunakan, maka Kyai Kholil memerintahkan pada beberapa orang santri untuk mencarinya. Konon dalam perintahnya, Kyai Kholil menyuruh para santri untuk mencari kayu ”opo-opo”.
Benarkah kentongan yang berdiameter 30 cm itu, dulunya dibuat dari jenis kayu opo-opo ?
Bila kita bahas perintah dari Kyai Kholil kepada para santri untuk mencari kayu opo-opo, mestinya yang diambil bukan kayu dari jenis tanaman perdu. Untuk kayu opo-opo yang merupakan bahasa jawa, bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya jenis kayu apa saja yang dapat dibuat kentongan. Dengan demikian, bukan kayu opo-opo seperti yang banyak tumbuh di pinggir jalan ataupun di pinggir ladang. Tetapi anehnya, untuk menentukan jenis kayu kentongan asli yang tersimpan di atas pengimaman tersebut memang sangat sulit. Serat kayu kentongan itu berbeda dengan serat kayu tumbuhan lain, yang banyak tumbuh di hutan dekat desa Ngroto sekarang. Hal ini yang masih menjadi misteri bagi masyarakat desa Ngroto, guna menentukan jenis kayu apakah yang dibuat menjadi kentongan oleh Kyai Kholil pada waktu dulu.

Repost:
http://heruhardono.blogspot.com/2009/12/ki-demang-khamidin.html

 
Copyright © 2015 CahNgroto.NET. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger