Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
Home » , » Kisah Simbah Sirodjudin Ngroto ( Kyai Siradjudin )

Kisah Simbah Sirodjudin Ngroto ( Kyai Siradjudin )

Posted by CahNgroto.NET on Friday, January 28, 2011

Riwayat Kyai Siradjudin

Memang sedikit sekali yang dapat diceritakan tentang riwayat Kyai Siradjudin. Menurut cerita bahwa nama asli beliau adalah Umar, berasal dari suatu daerah di Jawa Timur. Setelah tamat belajar di pondok pesantren Ngampel Surabaya, beliau bersama 4 orang santri lainnya didadar (diuji) gurunya. Sebagai bentuk pendadaran tersebut, adalah pergi ke daerah sambil mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada warga.
Adapun nama lima orang santri yang melakukan pendadaran tersebut, ialah :
- Imamudin, diutus ke daerah Kajoran Magelang
- Khasanudin, diutus ke daerah Watu Congol Magelang
- Tholabudin, diutus ke daerah Karangasem Magelang
- Umar, diutus ke daerah Jatipecaron Gubug
- Basarudin,diutus ke daerah Pringapus Ambarawa.
Pertamakali datang di pedukuhan Jatipecaron, perkembangan pondok pesantren disana sudah berjalan baik. Karena itu kedatangan Kyai Siradjudin disana, hanya membantu kyai yang ada di pondok itu. Namun baru beberapa hari tinggal di pondok Jatipecaron, beliau mendengar tentang pondok pesantren dukuh Kuwaron yang tidak dapat berkembang baik. Hal tersebut disebabkan karena sering terjadi perselisihan antar warga, yang sulit untuk didamaikan. Kyai di pondok itu juga merasa kesulitan, untuk mengajak hidup rukun warga pedukuhan. Karena itu warga disana juga sulit diajak berkumpul, guna belajar mengaji secara bersama-sama. Mendengar cerita keadaan di pondok itu, Kyai Siradjudin tertarik mendatangi dan ikut menyelesaikan permasalahan itu. Dengan seizin kyai pondok Jatipecaron, Kyai Siradjudin berangkat ke pedukuhan Kuwaron.
Setelah Kyai Siradjudin datang di pedukuhan Kuwaron, ternyata apa yang diceritakan orang kepadanya ada kebenaran. Perkembangan pondok pesantren pedukuhan itu sangat memprihatinkan sekali, karena hanya sedikit para santri yang belajar mengaji disana. Upaya dari Kyai Siradjudin adalah mendamaikan setiap ada perselisihan antar warga, kemudian mengajaknya belajar mengaji. Menurut beliau bahwa hal itu perlu dilakukan, karena keberhasilan mendamaikan warga merupakan landasan utama untuk memajukan pondok pesantren pedukuhan Kuwaron.
Usaha keras Kyai Siradjudin berhasil baik, penduduk di pedukuhan Kuwaron dapat hidup rukun. Dengan dibantu beberapa Kyai yang lain, diajaknya mereka untuk mengaji. Adapun sebagai tempat yang digunakan untuk mengajar, berada di balai peninggalan para santri zaman dulu. Karena kepandaian dalam ilmu agama dan tekun dalam mengajar mengaji, maka Kyai Siradjudin diberi kepercayaan menjadi pemimpin pondok pedukuhan itu. Hingga berbulan-bulan lamanya Kyai Siradjudin tinggal di pedukuhan Kuwaron, yang pada akhirnya diajak Ki Demang Khamidin ke pedukuhan Ngroto. Melihat penduduk di pedukuhan Kuwaron yang sudah taat dalam beragama dan juga sudah ada beberapa orang kyai yang tinggal disana, maka permintaan Ki Demang Khamidin dikabulkan. Sebelum berangkat menuju ke pedukuhan Ngroto, beliau menyerahkan pimpinan pondok pesantren kepada salah seorang Kyai bernama Makidin. Adapun siapa Makidin itu dan berasal dari mana beliau, tidak ada warga desa Kuwaron sekarang ini yang dapat menceritakan.
Kyai Siradjudin wafat dalam usia lajut. Oleh warga pedukuhan beserta para pengikutnya, jenazah beliau dimakamkan di sebelah Timur makam Kyai Abdurrahman Ganjur. Memperhatikan jasa-jasa beliau dalam pengembangan agama Islam di pedukuhan Ngroto waktu dulu, maka diatas makam beliau dibuatkan cungkup dengan bentuk yang sangat cantik. Untuk menghormati jasa beliau, pada tiap tahun dilaksanakan acara haul terhadap arwah beliau. Adapun acara haul tersebut dilaksanakan tiap tanggal 1 Syura, bersamaan dengan haul Kyai Abdurrahman Ganjur.


Repost:
http://heruhardono.blogspot.com/2009/12/riwayat-kyai-siradjudin.html

SHARE :
CNN Blogger

2 comments

Anonymous July 11, 2011 at 11:03 PM

tentang kiai tholabudin yang diutus ke magelang ada kisahnya tidak

Anonymous November 30, 2014 at 6:08 PM

Di desa Kuwaron masih ada pesantren yang dari beberapa dekade diasuh oleh alm KH Sofwanduri, Sesudah itu dipimpin oleh KH Zuhri dan sekarang diasuh oleh putranya bernama Kang Munif.

Mbah Yai Sofwanduri itu guru dan sahabat akrab almarhum bapak saya bernama Joyohadi Karim, yang sempat mewakafkan beberapa bidang tanahnya untuk pesantren, madrasah, masjid jami's dan areal pemakaman para Kyai disekitar masjid tsb.

Saya cukup terkesan dengan riwayat yang dipaparkan diatas. Khususnya perihal mbah Ganjur, yang almarhum Gus Dur pun sering berziarah ke makam beliau di Ngroto, saya berharap dapat kesempatan juga untuk berziarah ke Ngroto tsb.

Salam ta'dhim untuk saudara2 seiman penggiat ziarah dan silaturrahim.

H. Abduh Sudiyanto

Post a Comment

 
Copyright © 2015 CahNgroto.NET. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger