Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Olahraga    Kuliner    Film   
Streaming

Follow Me

Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Armada Laut Nusantara, Kekuatan Yang Mati Suri

https://www.facebook.com/penerbit.imtiyaz/posts/872329106182060
Kapal Borobudur/ Ilustrasi ( Sumber: pigipugu )
 Oleh: Gus Rijal MZ*

Agar bangsa Arab, Tiongkok dan Eropa tidak "tahu" lokasi sesungguhnya sumber daya alam Cengkeh, Rempah-Rempah, hingga Cendana yang merupakan komoditas unggulan, Raja Majapahit sengaja menjadikan Ujung Galuh (Surabaya) & Tuban sebagai pelabuhan internasional. Aktivitas ekonomi dan transaksi kapital dengan bangsa asing dipusatkan di sini. Puncaknya, Majapahit mendapatkan keuntungan strategis: bea cukai "unlimited" dan monopoli wilayah laut.

Jika ada armada dagang Arab, Tiongkok, dan Eropa berani menuju wilayah timur--karena dapat bocoran lokasi SDA-- maka armada "bajak laut" dari Bali yang bersiaga di perbatasan wilayah Timur akan menggebuk kapal dagang asing dan merampas isinya.

Lalu mengapa armada laut Majapahit, yang semakin tangguh di era kepemimpinan Sang Arya Wira Mandalika Laksamana Mpu Nala, membiarkan bajak laut beroperasi? Maklum, Majapahit sengaja membiarkannya agar hemat tenaga, tak perlu capek-capek mengejar armada asing, toh mereka bakal menjadi santapan laskar laut dari Bali, yang menjadi negara fasal Majapahit. 

Saat Majapahit runtuh, monopoli laut dijalankan Demak, Banten, Cirebon, Aceh, dan Gowa. Tatkala kekuatan armada laut Demak, Banten, dan Cirebon mulai ambrol akibat kebijakan para sultan mengerdilkan armada laut, Kesultanan Aceh dan Gowa semakin menguat.

Setelah terfokus di wikayah tengah, kekuatan laut bergeser ke wilayah barat, tepatnya di Kesultanan Aceh Darussalam. Laksamana Keumala Hayati, wanita pertama yang berjuluk Laksamana alias Admiral (diserap dari istilah Arab, "Amirul Bahr") memimpin angkatan laut dengan gemilang. Dialah yang membunuh Cornelis De Houtmann, orang Belanda yang pertama kali mendarat di Jawa. Di bawah komandonya, angkatan laut Aceh menguasai jalur strategis di selat Malaka. Bajak laut dari Tiongkok keder, tapi bangsa kulit putih mulai merajalela.

Di Timur, Kesultanan Gowa mulai memperlihatkan dominasinya di samudera. Kesultanan ini semakin kuat tatkala dipimpin I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape alias Sultan Hasanuddin. Di bawah kepemimpinannya, ia membuka pelabuhan internasional di Makassar, dan berkarib dengan Swedia, Denmark, Inggris, dan Prancis. Bahkan, meriam terbesar yang dinamakan meriam Anak Makassar yang ditempatkan di benteng Somba Opu (kebetulan saya pernah berkunjung di reruntuhan benteng besar ini), adalah meriam made ini Prancis, yang dibawa Kapten De Larssen, perwira angkatan laut Denmark. De Larssen kemudian juga diangkat menjadi instruktur militer, khusus operasional meriam, bagi angkatan laut Gowa. Tujuan Sultan Hasanuddin membuka aliansi dengan negara-negara Eropa di atas di antaranya untuk membendung ekspansi Portugis, Spanyol, dan Belanda yang berebut kepulauan Banda dan Maluku, pusat rempah-rempah.

Armada laut Gowa yang dipimpin Intanrawa Daeng Riujung Karaeng Bontomarannu, bertugas memblokade jalur laut. Ia sangat ditakuti VOC. Bersama pasukannya, ia beberapa kali menenggelamkan kapal dagang dan galleon VOC. Marinir kompeni memberinya julukan Admiral Monte Maranno. Kekuatan armada laut Gowa sesungguhnya bertumpu pada dua aspek: divisi marinir yang dipimpin I Tolok Pareppek dengan kapal perusak-penyerbu dan divisi meriam pimpinan I Satong Kamisi.

Setelah Cornelis Spelmann, kriminal asal Batavia, yang bersekutu dengan Arung Palakka, penguasan Bone, membumihanguskan Benteng Jumpandang (Fort Rotterdam) dan Benteng Somba Opu, Gowa takluk melalui Perjanjian Bongaya, 1669.

Pasca penghancuran Somba Opu, armada laut Gowa kocar-kacir. I Maninrorie, putra bungsu Sultan Hasanuddin, yang menjabat wakil panglima angkatan laut, akhirnya melanjutkan perjuangan di sekitar perairan Makassar dan laut Jawa. VOC menyebutnya "perompak Gowa/Bajak Laut Bugis" akibat keganasannya menenggelamkan puluhan kapal VOC. I Maninrorie inilah yang kemudian bergabung dengan Trunojoyo melawan VOC dan masyhur dengan nama Karaeng Galesong. Beliau gugur di Jawa, dan dimakamkan di Malang (makam bangsawan ksatria ini pernah dirusak orang yang tidak bertanggungjawab beberapa tahun silam).

Selepas era ini, kekuatan laut kerajaan di Nusantara semakin ringkih, melemah, lalu berguguran, hingga kini, entah sampai kapan. Kekuatan armada laut yang mati suri menunggu kedatangan Kapten Jack Sparrow dengan kapal Black Pearl-nya.
---
Wallahu A'lam Bisshawab

Dirgahayu TNI !!!

Oleh: Gus Rijal MZ*

Di berbagai negara, tentara nasionalnya banyak dibentuk oleh penjajah secara resmi. Buku "Tentara Gemblengan Jepang" karya Joyce C. Lebra, di antaranya, mengurai peranan serdadu Jepang di era 1941-1945 dalam membentuk ketentaraan nasional di berbagai negara Asia atas nama solidaritas Asia--meski kenyataannya omong kosong belaka. Di Irak dan Afganistan, hari ini, kita melihat jika serdadu nasional di negara ini juga dilatih dan dipersenjatai oleh penjajahnya, AS, meski kemampuannya masih payah dalam menertibkan keamanan (di Irak, tahun lalu, Tikrit ditinggal tentara nasional Irak yang ketakutan dengan serbuan ISIS. Minggu ini, 7000 tentara nasional Afganistan gagal mempertahankan Provinsi Kunduz yang jatuh ke tangan sekira 1000 orang milisi Taliban). Parah banget kan?

Di Indonesia, TNI adalah jenis tentara yang menciptakan dirinya sendiri, ini ungkapan--kalau nggak salah--dari Jenderal (Purn.) Sajidiman Surjohadiprodjo dalam acara "Mata Najwa" yang mengangkat kajian soal Jenderal Sudirman, beberapa minggu silam. Okelah, bisa diperdebatkan ungkapan di atas. Silahkan. Sampai saat inipun, kata Aiko Kurasawa, dalam "Kuasa Jepang di Jawa", banyak tentara Jepang veteran Perang Dunia II yang menganggap dirinya berjasa dalam pembentukan dan minimal pengukuhan dasar-dasar kemiliteran TNI.

Bicara soal TNI kita, pada dasarnya memang tak bisa dilepaskan dari unsur eks PETA dan eks KNIL. Dua unsur ini yang diam-diam saling bertarung memperebutkan posisi elit ketentaraan, usai kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi dicanangkan Kabinet Hatta tahun 1948, yang secara tidak langsung dianggap menyingkirkan milisi lokal: laskar kiri (Pesindo) dan laskar muslim (Hizbullah dan Sabilillah), hingga milisi kedaerahan. Belum lagi perkara warlord di lapangan yang mengalami disorientasi kemiliteran karena wibawa dan kharisma mereka dipaksa berdasarkan pangkat resmi dari pemerintah, di mana mereka banyak yang turun satu-dua pangkat. 

Tentara eks PETA mulai kehilangan pelindung manakala Jenderal Sudirman berpulang pada 1950. Friksi antara eks PETA dan eks KNIL diam-diam meruncing sejak Hatta menempatkan Nasution, dari Div. Siliwangi, sebagai wakil panglima TNI, usai RERA sebagai pengimbangan kekuatan di tubuh militer.
Tahun 1950-an, TB. Simatupang dan KSAD Kolonel AH. Nasution mulai menggeret tentara ke jalur politik. Konflik terbuka militer vs sipil semakin tampak saat Nasution dan para serdadu mengarahkan moncong meriam ke Istana Merdeka, 17 Oktober 1952, sambil menuntut dibubarkannya parlemen. Dominasi AD juga semakin kuat di tubuh angkatan perang.

Pertengahan 1950-an, terjadi friksi di tubuh militer daerah melalui pembentukan Dewan Gajah, Dewan Banteng dan Dewan Garuda di Sumatera serta Dewan Manguni di Sulawesi yang berujung pemberontakan PRRI/Permesta. Bung Karno menerjunkan pasukan dari Jawa. Selesai.

Tahun 1960-an, Bung Karno semakin berusaha mengontrol kekuatan tiga matra. AL dan AU sudah di tangan BK, kekuatan keduanya juga banyak dilibatkan dalam Operasi Djajawidjaja dan Trikora di Irian Barat. Hanya Nasution yang belum terpegang sempurna. Oleh karena itu, BK melakukan rotasi dengan mengangkat Jenderal Ahmad Yani menggantikan Jenderal AH. Nasution sebagai KSAD. Adapun Nasution diangkat sebagai kepala staf ABRI. Karier Nasution beku karena di posisi ini dia hanya mengurus soal administratif dan tak punya kontrol atas pasukan.

1965, peristiwa G-30-S/PKI pecah. Beberapa jenderal AD menjadi korban. Panglima Kostrad, Brigjend Suharto, menggandeng Kolonel Sarwo Edhi Wibowo dengan RPKAD-nya menumpas PKI. Pak Harto menggandeng Sarwo yang dipenuhi amarah---karena mentornya, Jend. A Yani jadi korban-- untuk menyikat habis kelompok komunis. Pak Harto memanfaatkan serigala yang marah untuk memburu serigala lain. Belum cukup, di sisi lain, ia menyeret tiga perwira loyalis Bung Karno: M. Yusuf, Gatot Subroto dan Amir Machmud, ke pihaknya. Berhasil. Langkah berikutnya menyingkirkan Menpangad, Jend. Pranoto Reksosamudro, pengganti A. Yani. Padahal, Jenderal Pranoto ini kawan akrab Suharto saat di PETA. 

Konsolidasi internal dijalankan Pak Harto dengan cara melakukan pembersihan Sukarnois di angkatan perang. Ibrahim Adjie dan Hario Kecik termasuk korbannya. Nama baik AU dicoreng dengan dugaan keterlibatan Marsekal Omar Dhani, anak emas Bung Karno, dalam peristiwa G-30-S/PKI. Loyalis Bung Karno di AL seperti panglima KKO (marinir) Jenderal Hartono disingkirkan dengan perlahan. Kemal Idris, pengganti Pak Harto di Kostrad disingkirkan. Sarwo Edhie Wibowo tak luput aksi pembersihan ini dengan mengirimnya sebagai Pangdam Bukit Barisan lalu ke Cenderawasih kemudian di dutabesarkan. Jenderal HR. Dharsono di Siliwangi giliran berikutnya. Duta Besar adalah jabatan buangan di zaman ini.
Seera dengan itu, Pak Harto menggerakkan jaringan teman-temannya sesama bekas PETA menjadi pejabat di pilar Orde Baru, yaitu ABG (ABRI, Birokraso dan Golkar). Bahkan, Bardosono, tukang semir sepatu Pak Harto saat di PETA ia tempatkan sebagai ketua PSSI pertengahan 1970-an. Tak heran jika kata David Jenkins dalam "Suharto di Bawah Militerisme Jepang, Pak Harto lebih mempercayai efektifitas jaringan relasional daripada kemampuan seseorang.

Usai mengkonsolidasikan AD, Pak Harto melakukan pembersihan politik, 1973, dengan fusi parpol. Golkar berjaya sejak itu. Dalam sejarah Orba, Pak Harto menganakemaskan AD, Kostrad, Kodam V Brawijaya, Kodam Jaya dan Kodam Diponegoro. Semua KSAD dan Panglima ABRI lewat jalur empuk itu. Dalam sejarah Orba, hanya dua orang penjilat non AD yang bisa masuk ke lingkaran elit Pak Harto. Dari AL ada Laksamana (Purn) Sudomo yang menjadi Pangkopkamtib (lembaga teror Orba), sedangkan dari AU diwakili Marsekal Madya (purn.) Ginandjar Kartasasmita yang awet jadi menteri berbagai kabinet.

Ketika Pak Harto berkuasa, AL dan AU dibiarkan merana. Terjadi banyak kanibalisme alutsista di dua angkatan ini. Kesejahteraan prajurit juga mengenaskan. Kita bersyukur, di era reformasi anggaran militer naik meski kenaikannya selambat bekicot dan masih kalah dibandingkan anggaran militer negara lain di asia tenggara. 

Dirgahayu TNI

----
WAllahu A'lam Bisshawab.
----
Mohon koreksian bila ada kesalahan.

Salim Kancil, Chico Mendes dari Lumajang

 
Oleh: Gus Rijal MZ *

Era 1980-an, Chico Mendes berjuang melindungi kelestarian hutan Amazon dari pembalakan liar yang dijalankan sebuah korporasi lokal dengan "pembiaran" aparat pemerintah Brasil. Wilayah hutan Chacoeira adalah supermarket alami yang menyediakan kebutuhan penduduk; dari papan, pakan hingga medis tradisional. Para penduduk yang menjadi penyadap getah karet dan petani miskin memanfaatkan kekayaan hayati rimba Amazon itu.

Mendes, pria berkumis itu, melawan pembalakan ini dengan aksi damai bersama ratusan pengikutnya, yang mayoritas para petani miskin. Ia tak gentar melawan keserakahan dan kekejaman tuan tanah dan peternak kaya, Darly Alves da Silva.

Puncaknya, Mendes dibunuh. Pelakunya siapa lagi jika bukan anak buah da Silva. Mendes pada akhirnya menjadi martir pelestarian hutan Amazon. Rimba Chazoeira dijadikan Taman Nasional Chacoeira yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah Brasil.

Kisah perjuangan Mendes diabadikan melalui film "The Burning Season" yang menggambarkan silangsengkarut para petani miskin yang ditindas tengkulak, penjarahan hutan, aparat yang korup, dan kepedulian beberapa orang melakukan aksi perjuangan. "Pada awalnya saya mengira saya berjuang untuk menyelamatkan pohon karet, maka kupikir aku sedang berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Sekarang saya menyadari saya berjuang untuk kemanusiaan” demikian kalimat Chico Mendes yang paling masyhur.
Di Lumajang, ada Mendes dalam wujud lain, demikian pula wujud bajingannya. Salim "Kancil", pria berkumis itu, masih menikmati pagi bersama cucunya saat puluhan orang mendatanginya, menyeret dan menganiayanya. Ia diseret, lalu tubuh yang terhuyung itu didudukkan di kursi balai desa (!), kemudian kumpulan pembunuh bayaran itu ramai-ramai memukulinya, menyetrumnya dan menggergaji lehernya. Eksekusi dijalankan di depan pemakaman umum milik desa. Salim gugur. Ia tak seberuntung Tosan, sahabatnya, yang meski sudah dianiaya oleh gerombolan bersenjata, namun nyawanya masih selamat. Siapa otak pembunuhan dan penganiayaan ini? Katanya, seorang elit politik lokal yang mendapatkan keuntungan dari jasa tambang pasir di wilayahnya.

Salim "Kancil" menjadi martir bukan hanya atas nama dirinya, melainkan atas nama masyarakat yang menolak tambang pasir di desanya, atas nama kelestarian alam juga. Desa Selok Awar Awar, Pasirian, Lumajang, memang bukan Amazon yang diperjuangkan Mendes, tapi di sana ada luka menganga masyarakat yang dirugikan atas penambangan liar yang nyaris tak terkendali.

Soal tambang, hutan, dan lokasi kekayaan alam, apapun jenisnya, di negeri ini lebih banyak mudarat dibanding maslahatnya.

Sugeng tindak, Pak Salim Kancil....semoga pengorbanan nyawa panjenengan membawa dampak kemaslahatan bagi masyarakat dan menyentil nurani pihak-pihak yang punya kewenangan di sini, di negara yang masih segan dan malu-malu memperjuangkan "tanah" dan "air" sebagai wujud kedaulatan tanah airnya sendiri.

WAllahu A'lam

*Rijal Mumazziq Z

 
Copyright © 2015 CahNgroto.NET. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger